Kita, Pada Persimpangan Jalan

Sumber foto: giovannipromesso.blogspot.com

Oleh: Tomson Sabungan Silalahi
Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta

Dulu, kemarin dan sekarang begitu terasa, sangat berbeda. Fenomena-fenomena yang terjadi belakangan, berhasil mengejutkan banyak orang karena terjadi begitu saja tanpa boleh terprediksi sebelumnya. Seolah-olah datang begitu saja, tanpa komando, tapi benarkah tanpa komando, atau benarkah tidak bisa diprediksi?

Gambaran semakin menguatnya wilayah perkotaan (urban) sebagai pusat kebudayaan (semua budaya dari yang paling buruk hingga yang paling baik) dan wilayah pedesaan sebagai daerah pinggiran. Tampak ketika pilkada di DKI Jakarta yang mendapat sorotan terbanyak daripada pilkada-pilkada lainnya, sampai ada jargon pilkada rasa pilpres sankin masifnya perbincangan mengenai pilkda DKI Jakarta. Mata banyak orang tertuju pada Jakarta,  juga karena banyaknya pertunjukan kebudayaan dari berbagai daerah diadakan di Jakarta (dan kota-kota besar lainnya).

Seiring dengan itu, kalau dicermati lebih dalam, akhir-akhir ini banyak kejadian-kejadian yang menjadi fenomenal setelah disebarkan begitu luas dan masif lewat media massa. Industrialisasi (teknologi) media massa menjadi perpanjangan tangan dari sistem indera, organ dan saraf kita, hingga membuat dunia semakin kecil. Semua, terasa sudah diatur oleh media massa, dulu radio dan televisi sekarang ditambah lagi melalui media sosial, seperti facebook, twitter, instagram, youtube, dan banyak media online lainnya, informasi yang tersebar viral ini (telah) menggiring opini masyarakat, pembacanya. Apakah informasi itu sudah teruji kebenarannya atau tidak?, nanti dulu. Tapi, lagi-lagi fokus kebanyakan orang adalah kota-kota besar yang dalam kasus ini (lebih fokus) adalah Jakarta. Dan, media-media massa besar punya andil besar dalam hal ini.

Kemudahan-kemudahan yang didapatkan dari produk teknologi itu semakin membuka peluang bagi tiap individu dan kelas-kelas sosial atau kelompok untuk mengemukakan pendapat secara lebih bebas dan sekaligus telah ikut mendorong proses demokrasi, di mana setiap individu sama hak dan kewajiban serta memperoleh perlakuan yang sama (seharusnya).

Cepatnya informasi mengintervensi (langsung maupun tidak langsung) kecenderungan bagi tumbuhnya eklektisisme (orang mengambil hal-hal yang baik menurutnya dari berbagai sistem) dan pencapuradukan dari pelbagai wacana, potret serpihan-serpihan realitas sehingga seseorang sulit untuk ditempatkan secara ketat pada kelompok budaya (atau kelompok-kelompok lainnya) secara eksklusif. Ada kecenderungan menuju pada nilai-nilai universal, bagi kebaikan bersama. Namun, di sisi yang lain, muncul pula radikalisme etnis dan keagamaan. Fenomena ini (kita duga) muncul sebagai reaksi ketika orang semakin meragukan kebenaran sains, teknologi dan filsafat yang dinilai gagal memenuhi janji mereka untuk membebaskan manusia. Seyogianya, sains, teknologi dan filsafat yang boleh membebaskan manusia dari segala bentuk ketidakadilan, tapi kenyataannya, masih banyak masyarakat yang merasa diabaikan, tidak mendapatkan keadilan yang seadil-adilnya.

Sehubungan dengan kebebasan mengemukakan pendapat itu kemudian muncul juga banyak kecenderungan (yang sebenarnya tidak lagi) baru untuk menemukan identitas dan apresiasi serta keterkatian rasionalisme dengan masa lalu. Banyak yang sedang menggugat (mempertanyakan) relevansi dari tradisi-tradisi lama (termasuk agama). Seiring dengan itu timbul pemberontakan secara kritis terhadap modernitas, ketika banyak yang protes terhadap sikap individualis yang dilahirkan oleh mondernisme itu, dengan itu memudar kepercayaan pada agama yang bersifat transenden (utama) dan diterimanya pandangan pluralisme sebagai kebenaran yang relatif. 

Pada semua fenomena di atas, yang paling disoroti adalah agama (hasil pemikiran religius) yang merupakan ajaran kebenaran yang sudah ada sebelum teknologi modern (hasil pemikiran rasional) ditemukan.  Perkembangan agama dan teknologi selalu terjadi, namun perkebangan teknologi lebih cepat berkembang. Agama berusaha mengikuti ritme perkembangan teknologi dengan turut menggunakan produk-produk teknologi itu sendiri. Tetapi di sisi lain, banyak juga kisah-kisah dalam kitab-kitab agama yang menceritakan tentang (prediksi) perkembangan teknologi itu sendiri, semua akhirnya terasa tercampur aduk jadi satu seperti tidak bisa dipisahkan.

Silahkan pembaca menyimpulkan sendiri, yang pasti saat ini sudah tercipta dikotomi manusia dipengaruhi oleh kedua unsur di muka. Kelompok yang menemukan (baca: meyakini) bahwa kebenaran itu dari agama saja akan membuatnya menjadi seorang fundamentalis religius. Sebaliknya kelompok yang menemukan bahwa kebenaran itu hanya dari teknologi (pemikiran manusia) maka itu akan membuatnya menjadi seorang fundamentalis rasional.

Setiap orang sampai pada penyimpulan dari informasi-informasi yang diterimanya yang kebanyakan dari  bentuk-bentuk transkripsi dari agama, teknologi dan kombinasi dari keduanya yang lebih kita kenal dengan istilah bahasa (tulis). Sayangnya, bahasa yang digunakan dalam wacana yang beredar akhir-akhir ini seringkali mengesankan ketidakjelasan makna dan inkonsistensi sehingga banyak mengandung paradoks, yang bisa membingungkan kebanyakan orang. Manusia memang lemah, namun bahasa memperkuat sekaligus bisa menghancurkan peradaban manusia. Maka dari analisis bahasa yang ada, bisa diprediksi apa kiranya yang sedang terjadi. Maka bahasa (secara tidak sadar) menjadi komando yang bisa menggiring opini kita. Maka, masihkah kita berkiblat pada Jakarta yang penuh dengan paradoks-paradoks yang disuguhkannya? Kita berada pada zaman kegalauan. Sadar tidak sadar, sekarang kita berada pada persimpangan jalan.

Tulisan ini sudah pernah dimuat di kompasiana.com

KOMENTAR

Nama

.id - Jejak Pencarian,3,1000 Lilin,1,1965,1,3 Tahun,1,9 November,1,Adu Domba,1,Advokat,1,Agama,1,Ahok,1,AHY,1,akbid santa benedicta pontianak,1,Aksi 3 Tahun Jokowi-JK,1,Alfred,1,Alumni,1,Anak,2,Ananda,1,Anies,1,Anis Baswedan,1,Antikorupsi,1,Argentina,1,Artikel,24,Asian Games,1,Australia,1,Bahasa,1,Bahasa Inggris,3,Bakti Sosial,1,balaikota Jakarta,1,Bengkulu,1,Berbuah,1,Berita,71,Berita. Sumatra Utara,1,Berjuang,2,Berkarya,2,Berubah,1,Bidan,1,Biografi,1,Bitcoin,1,Black Pather,1,boarding pass,1,Budi Mulia,1,Buku,4,Bumi,1,Bunuh Diri,2,cadar,1,Candu,1,Candu Pesan,1,Candu Pesan Instan,1,Cerpen,5,Changi,1,Cinta,2,Cipayung,1,Cipayung Plus,1,Cookies and Bakery,1,Cooperative Learning,1,CR7,1,Crazy Rich Asians,1,Creative Minority,1,Curhat,1,Danau Toba,2,Dara. Kathulistiwa,1,Deepavali,1,Demokrasi,5,Devide et Impera,1,Dies Natalis PMKRI,1,Dilan,1,Diskusi Publik,1,Diwali,1,DIY,1,Djarot Saiful Hidayat.,1,Dogma,1,Doraemon,1,Dosa,1,DPR,2,Drama,1,Dunia,1,Duterte,1,Dwi,1,Emas,1,Eris,1,ESDM,1,Essai,1,Fakultas Kehutanan,1,Fandis,1,Fase,1,Feminin,1,fenomena,1,FIFA World Cup 2018,1,Film,2,Film Porno,1,Filsuf,1,Forum Orang Muda Dunia,1,Fotografi,1,Fransiskus,1,Freeport,1,Friska Sitorus,2,Fun Walk,1,Game,1,Garuda,1,Gaya Hidup,1,Gender,1,Genre Teks,1,Gereja,2,Gubernur,1,Guru,1,Hak Asasi Manusia,1,HAM,4,Harakiri,1,Harapan,1,Hari,1,Hari Bumi,1,Hari Pahlawan,1,Hati Gajah,1,Hegemoni,1,Henry Golding,1,herbal,1,Hindu,1,hoaks,2,Hoax,3,Holiday,1,Hong Kong,1,HUKUM,1,Human Rights,1,Human Trafficking,1,hutan,2,Hymne,1,Ignasius Jonan,1,Imunitas,1,Indonesia bangkit,2,informasi,2,Introver,1,ISKA,1,Istri,1,Jambi,1,Jaya,1,Jepang,1,JK,1,Jokowi,1,Kabupaten Sintang,1,Kalimantan Barat,2,Kampanye Sosial,1,Karakter,1,Katakanlah,1,Katolik,2,Kebosanan,1,Kecanduan,1,Kekerasan Anak,2,Kekerasan Polisi,1,Kekerasan Seksual,2,Kelompok Cipayung,2,Keluarga,3,Kemiskinan,1,Kepemimpinan,1,Kerabat Antropologi,1,Kerja Jaringan,2,Kesepian,1,Kita Indonesia,1,Kitabisa,1,KMK,1,Kominfo,1,Komunis,1,Konflik,1,Konten Negatif,1,Kontribusi,1,Korupsi,4,Koruptor,1,Kostulata,1,Kota,1,KPK,4,KPKR,1,Kreatif,1,Kritik Sastra,5,KSN,2,Kufur,1,Kurnia Patma,2,KWI,2,Larantuka,1,LDKM,1,Lingko Ammi,1,Liovina,1,Literasi,2,LKK,1,Low Budget,1,LPDP,2,Luka,2,Lut_q,1,Mahasiswa,3,mahasiswa katolik,1,maliku,1,Marz,1,Maumere,1,MDGs,1,Media online,1,Media Sosial,3,Membaca,6,Meme,1,Menangis,1,Menkominfo,1,Menulis,4,Mesir,1,Messi,1,Milenial,1,Minder,1,Mohctar Lubis,1,Moral Negara,1,Moralitas Negara,1,Mother Earth,1,MPAB,4,Muda,3,Myanmar,1,Nagakeo,1,Narkoba,1,Nasional,1,Natal,1,Nawa Cita,1,Negro,1,Nilai-nilai,1,Nommensen,1,NTT,3,Opening Ceremony,1,Opini,58,Orang Muda,4,Organisasi,4,Ormas,1,Pahlawan,1,Palopo,1,Pancasila,2,Papua,1,Partai Politik,1,Passport,1,Patriarkis,1,Paus,1,Pedagang,1,Pelantikan,2,Pelantikan Anggota Baru,1,Pematangsiantar,3,Pembelajaran Kooperatif,1,Pemerintah,1,Pemimpin,2,Pemuda,2,Pemudi,1,Pendidikan,4,Pendidikan Indonesia,2,pengabdian,1,pengamat,1,Penonton,1,Penulis,1,Peradaban,1,Perang,1,Perbedaan,1,Percaya Diri,1,Perempuan,1,perkebunan,1,PERPPU,1,Persimpangan,1,Pesan Instan,1,Pewarta,1,Philosophy Award,1,PMKRI,33,PMKRI Bengkulu,1,PMKRI Cabang Bengkulu,1,PMKRI cabang maumere,1,PMKRI cabang Pematangsiantar,1,PMKRI Cabang Tondano,1,PMKRI Cabang Yogyakarta,1,PMKRI Manokwari,1,PMKRI Pematangsiantar,1,Politikus,1,Politk,1,Pontianak,2,Portugal,1,PPDKS,1,Prancis,1,Presiden,1,Pribumi,1,psikologi,1,Puisi,14,Pulang,2,Pulang Kampung,1,Qiana,1,Radikal,1,Radikalisme,2,Refleksi,2,Refleksi Sumpah Pemuda,1,Reformasi,1,Review Buku,2,Riview,1,Robertus Dagul,1,Rohingya,2,Romo Prof. DR. Franz Magnis-Suseno,1,Ronaldo,1,Sahabat,1,Sangge-sangge,1,SBY,1,SDGs,1,SDN Nggoang,1,Sejawat,1,Sekolah,1,Seks,1,serai,1,Simalungun,1,Sinetron,1,SJ,1,sm3t,1,Sosdodihardjo,1,Sosial,2,Spirit,1,Sriwijaya Air,1,Stadium General,1,Studium Generale,1,Sukses,1,Sulawesi Utara,1,Sumpah Pemuda,1,Surat,1,Surat Terbuka,2,Suster,1,Sydney Opera House,1,Taruna Merah Putih,1,Tembok,1,Thomas,1,Tiga,1,TMP,1,Tomson,2,Tomson Sabungan Silalahi,4,Tri Hari Suci,1,Trip N Vlog,1,TRIP N VLOG #PULANG KAMPUNG,1,Tungku Batu,1,UGM,1,UNIPA,1,Universitas HKBP Nommensen,1,Universitas pakuan bogor.,1,Universitas Tanjungpura,1,UNJ,1,Urban,1,Uruguay,1,UU MD3,1,Valentine,1,Vatikan,1,Vatkian,1,Veteran,1,Vox Point,1,wacana,2,wanita,1,War On Drugs,1,Wartawan,1,WiFi,1,World Youth Forum,1,WYF2017,2,YLBHI,1,Yogen,7,Yogyakarta,1,Zaman Now,1,
ltr
item
katakanlah: Kita, Pada Persimpangan Jalan
Kita, Pada Persimpangan Jalan
Silahkan pembaca menyimpulkan sendiri.
https://4.bp.blogspot.com/-oBA9gxwj4Qk/UtEscQmELpI/AAAAAAAAAjo/FjA1Gvtcsug/s1600/persimpangan-jalan-2.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-oBA9gxwj4Qk/UtEscQmELpI/AAAAAAAAAjo/FjA1Gvtcsug/s72-c/persimpangan-jalan-2.jpg
katakanlah
http://www.katakanlah.com/2017/09/kita-pada-persimpangan-jalan.html
http://www.katakanlah.com/
http://www.katakanlah.com/
http://www.katakanlah.com/2017/09/kita-pada-persimpangan-jalan.html
true
8814382905702038148
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All rekomendasi LABEL arsip CARI ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy