Jejak Tapak Satu Periode

Foto Koleksi Pribadi
Oleh: Liliana Sitanggang*

Saya lupa bagaimana hasrat untuk menjadi salah satu anggota masyarat SM3T ini mulai tercipta. Alasan untuk mengabdi, mencari pengalaman, atau menjadi panggilan jiwa bukanlah hal yang utama (meskipun ketika wawancara itu yang kusampaikan). Namun kini alasan itu telah kubenarkan setelah aku sungguh dengan benar mengalami hidup bersama “mereka” secara langsung. Siapa mereka? Kenapa berubah? Inilah Spenggal kisahnya. Selamat Membaca!
Setelah beberapa proses yang telah dilalui, namaku terdaftar menjadi salah satu peserta  yang lulus dalam program ini, program pemerintah yang diberi nama SM3T (Sarjana Mendidik di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal) yaitu program pengiriman guru-guru ke pelosok negeri dalam rangka membantu mendidik di wilayah NKRI yang kekurangan guru. Sebelum dikirim ke daerah pengabdian, kami harus mengikuti pra kondisi untuk melatih kami secara fisik dan psikis, agar kami siap ditempatkan di mana saja yakni daerah 3T selama kurang lebih 15 hari terhitung sejak tanggal 2-17 Agustus 2016. Di hari kedua kami sudah memperoleh nama daerah sasaran yang akan kami jajaki dan dari delapan nama kabupaten yang terdaftar, namaku masuk dalam kolom penempatana Kabupaten Halmahera Utara.
Tepat pada tanggal 18 Agustus 2016 kami diberangkatkan ke Kabupatan Halmahera Utara. Menaiki pesawat untuk pertama kalinya membuatku sedikit kahawatir sekaligus bahagia. Bersama 34 orang rekan lainnya kamipun berkumpul untuk menerima tiket, menerima arahan, dan hal lain yang berkaitan dengan keamanan den kenyamanan keberangkatan. Rasa haru dan tangis seketika pecah ketika aku mulai menuruni anak tangga menuju ruang tunggu hingga aku tak sanggup menoleh ke belakang untuk melihat lambaian tangan mereka yang kusebut keluarga. Meskipun demikian itu tidak menggoyahkan keyakinanku untuk tetap melangkahkan kaki menuju dunia baru yang telah menungguku.
Aku menikmati perjalananku selama pesawat mengudara, menyaksikan pesona alam Indonesia dengan sangat begitu jelas. Aku tak bisa menggambarkan betapa aku sangat bahagia atas kekagumanku untuk Indonesia. Tanpa kusadari bibirku berucap “Trimakasih Tuhan” hingga beberapa kali. Setelah sekitar enam jam mengudara akhirnya kami sampai di ibu kota kabupaten Halmahera Utara yaitu Tobelo. Kami dilayani dengan baik oleh pemerintah setempat, mereka menyediakan penginapan dan makanan yang layak untuk kami. Keesokan harinya kami diundang ke kantor Bupati untuk menghadiri upacara penyambutan kedatangan kami dan penyerahan secara resmi pihak LPTK (UNIMED) kepada pemerintah setempat. Di hari itu kami langsung didistribusikan ke sekolah-sekolah yang menjadi tempat pengabdian kami.
 Dua hari kemudian 30 orang rekan sesama guru SM3T dari LPTK Makassar juga datang ke kabupaten tersebut untuk mengabdi seperti kami. Satu persatu dari antara kami pergi ke sekolah yang memang membutuhkan tenaga guru, dari total keseluruhan yakni 65 orang yang disebar, saya dan dua rekan lainnya merupakan peserta terakhir dikirim kelokasi karena untuk menuju desa penempatan ini kami harus menunggu kapal yang diberi nama Wahana (kendaraannya masih harus lewat laut). Jadwal kapal ini haya satu kali dalam seminggu jadi kami harus menunggu di Tobelo selama beberapa hari. Makan seadanya, tinggal di tempat seadanya juga. Setelah hampir seluruh teman-teman telah dikirim ke masing-masing penempatan, rasa sepi dan haru mulai terasa. Ditambah lagi bahwa faktanya desa yang kami tuju merupakan desa paling tertinggal dari semua desa sasaran untuk Kabupaten Halmahera Utara, tidak ada listrik, tidak ada sinyal, tidak ada transportasi setiap hari bahkan sekolah yang kutuju tidak memiliki kepala sekolah. Oleh karena itu, Desa ini sering disebut sebagai penjara PNS. Sangat jarang orang yang bersedia ditempatkan di Desa tersebut. Desa kami juga merupakan desa yang jarak tempuhnya paling jauh dari ibu kota kabupaten yaitu sekitar 8 jam perjalanan via laut.
Di penempatan, saya tidak hanya sendiri ada peserta SM3T yang lain. Namanya Rismelia Simanjuntak (PPKN) dan Harold Manalu (Matematika). Mereka adalah saudara terdekatku selama pengabdian di Desa tersebut. Pengalaman di penempatan sangat  banyak dan butuh ribuan lembaran untuk menuliskannya. Maka akan lebih baik jika kita coba meringkasnya melalui beberapa gambar berikut. J J J
Kapal "Citra" yang kami gunakan
Kapal transportasi yang kami gunakan menuju penempatan. Kapal ini mampu menampung 500 orang dan beberapa muatan lainnya seperti semen, besi, bahan makanan, dan hal lainnya. Berdasarkan cerita warga, sapi pun dibawa dengan menggunakan kapal ini. Semua transportasi di daerah ini hanya melalui laut. Untuk pergi ke desa yang berada pada satu kecamatan saja pun harus menggunakan transportasi laut.
Pertama kali saya sampai di Desa penempatanku (Asimiro) saya terkejut sebab tidak ada pelabuhan yang disediakan sebagai tempat pemberhentian kapal. Jadi kami harus transit ditengah laut. Berpindah dari kapal besar (Wahana) ke  kapal kecil (Body). Anda bisa bayangkan bagaimana cara kami berpindah. Kami melompat dan itu di luar kemampuan ku. Hahahhahahahha tiba-tiba saja saya jadi wonder women. Ini lah keistimewaan peserta SM3T, menempa kami menjadi pribadi yang lebih kuat dan mandiri. (jadi bangga awak) J J J

 Kami mendidik di sekolah SMP Negeri 18 Halut. Sekolah itu jauh dari pemukiman warga karena letaknya yang berada di tengah kebun kelapa. Untuk mencapai sekolah kami harus melewati sungai dengan menggunakan batang kelapa sebagai jembatannya. Demikianlah kami lalui setiap hari selama kurang lebih satu tahun mengabdi. Tapi sampai aku menulis kan cerita ini, kami belum pernah jatuh ke suangi tersebut sebab warga selalu saja berusaha membuat jembatan senyaman mungkin untuk kami gunakan. Meskipun setiap musim hujan, jembatan ini akan ikut hanyut terbawa arus air sungai. Jadi selama kami di sana sudah lima kali kami ganti jembatan. Maklumlah kalau hanya sekedar batang kelapa, di Desa tersebut masih banyak batang kelapa. Jadi tak heran jika warga berinisiatif membuat tiang listrik dari batang kelapa. Kelapa merupakan hasil perkebunan, di Desa kami ada cukup banyak.
Siswa, warga, dan seluruh pesona desa sangat membantu kami melewati hari-hari selama satu tahun mengabdi. Kesulitan yang dihadapi tak cukup berarti ketika kenangan kebahagiaan bersama mereka terkenang kembali. Karena guru yang tersedia terbatass, maka kami dituntut oleh keadaan untuk bisa mengajar Multisubjek. Misalnya saja saya, jurusan Ekonomi, tapi harus mengajar biologi, sejarah dan juga geogerafi. Masing-masing di antara kami bertiga mengampu tiga sampai empat mata pelajaran. Selain mengajar, kami melakukan kekiatan ekstrakurikuler seperti LKBB (Latihan Keterampilan Baris Berbaris), Les tambahan, kegiatan keolahragaan, dan kegiatan lainnya.
Perihal kegiatan pembelajaran, saya selalu memberi yang terbaik dari diri saya untuk seluruh anak-anak yang ada di sekolah. Saya dan rekan saya mebuat banyak aktivitas pendidkan dengan siswa yang melibatkan para orangtua, guru honorer yang ada di sekolah, pemerintah setempat dan para pemuka agama. Kami bahkan megaktifkan kegiatan-kegiatan sekolah lainnya seperti OSIS, perlombaan bidang olahraga, Paskah dan Natal bersama.



Hal yang membuat saya semakin mencintai desa ini ialah ragam budaya yang dimiliki. Unik dan menarik. Di wilayah Kabupaten Halmahera Utara banyak ditemui berbagai macam budaya, khususnya Kecamatan Loloda Utara, Asimiro baik dalam bidang seni dan adat-istiadat seperti: tarian, jenis kerajinan tangan, musik tradisional, maupun bahasa. Berikut ini beberapa jenis tarian yang terdapat di daerah tersebut seperti tarian Cakalele, Tide-tide, Togal, dan lain-lain.
Dulu tari cakalele adalah tarian perang yang umumnya ditarikan oleh penari pria, namun ada juga beberapa penari wanita sebagai wanita pendukung. Pada saat itu tarian ini dilakukan sebagai tarian perang para prajurit sebelum menuju medan perang maupun sepulang dari medan perang. Pada masa sekarang ini, tari cakalele tidak lagi difungsikan sebagai tarian perang, namun lebih sering ditampilkan untuk acara yang bersifat pertunjukan maupun perayaan adat. Bagi masyarakat Loloda, tari cakalele dimaknai sebagi wujud apresiasi dan penghormatan masyarakat terhadap para leluhur dan nenek moyang mereka. Tarian ini menggambarkan jiwa masyarakat Loloda yang tangguh dan pemberani, hal itu bisa dilihat dari gerakan dan ekspresi penari saat menarikan tarian ini. Dalam tarian ini penari pria menari menggunakan parang (pedang) dan salawaku (tameng) sebagai atribut penarinya. Sedangkan penari wanita biasanya menggunakan lenso (sapu tangan). Gerakan penari pria biasanya lebih didominasi oleh gerakan kaki berjingkrak-jingkrak secara bergantian sambil tangan memainkan parang dan salawaku. Gerakan para wanita didominasi oleh gerakan tangan yang diayun secara bergantian. Tarian ini diiringi oleh musik tradisional Loloda yaitu tifa dan gong yang bertempo cepat layaknya genderang perang yang dapat memicu semangat para penari.
Selain tari cakalele, di desa ini juga terdapat tari tide-tide. Tarian ini  merupakan tarian pergaulan yang biasanya ditarikan secara berpas wanita pada acara tertentu seperti acara adat dan acara hiburan. Para pasangan penari biasaya dipandu oleh satu orang yang disebut Kapten. Sang Kapten akan memandu gerakan yang akan ditarikan oleh para penari sesuai dengan adat istiadat. Bagi masyarakat setempat, tarian ini dimaknai sebagai bahasa pergaulan yang akrab dan harmonis. Hingga saat ini tari tide-tide masih tetap dilestarikan oleh masyarakat Loloda.
Adat istiadat di daerah ini sangat dijunjung tinggi oleh masyarakatnya. Misalnya saja dalam meminang, calon mempelai pria harus membawa beberapa seserahan seperti sirih pinang, kapur, dan tuala. Seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini.
Jika pergi meminang, maka harus berangkat pagi-pagi dan kaki harus tanpa alas menuju ke rumah calon mempelai perempuan. Jika tidak maka pihak dari mempelai pria akan didenda. Denda tersebut berupa uang. Tanda jika didenda, maka lampu yang tadi menyala ditiup hingga padam. Orang yang didenda tersebut kemudian memberikan denda berupa uang yang nominalnya tergantung kesepakatan dari kedua belah pihak. Dalam meminang, ada sejenis piring yang disediakan, jika piring tersebut dibalik ke bawah oleh pihak calon mempelai perempuan berarti pinangannya itu tidak diterima. Maka pihak laki-laki mencoba kembali dua atau tiga kali.
Keunikan daerah Loloda yang jarang atau bahkan tidak pernah ditemui ditempat manapun adalah adat “Cuci Kaki dikeringkan menggunakan  Rambut”. Adat ini terjadi pada proses pernikahan yang dilakukan oleh pihak mempelai laki-laki kepada mempelai perempuan. Acara adat ini sebagai simbol mertua menerima dan menyayangi anak menantunya tersebut.


Bahan-bahan yang digunakan dalam proses cuci rambut memiliki arti sendiri-sendiri. Berikut bahan-bahan yang digunakan serta maknanya.
1.  Air, yang mengandung makna kasih sayang,
2. Daun cinga-cinga, mengandung makna ingat-ingat orang setelah menikah,
3. Daun kano-kano, yang mengandung makna saling mengharap,
4. Golo-golo, yang mengandung makna saling meminta,
      5. Daun pisang kering, yang mengandung makna saling mencari.

Seluruh item di atas dicampur menjadi satu, kemudian gadis belia yang berambut panjang dari keluarga mempelai pria diminta untuk mengeringkan kaki mempelai wanita dengan menggunakan rambutnya. Selain pada pernikahan, adat ini bisa juga dilakukan untuk penyambutan para pejabat atau orang penting sebagai tanda penghormatan. Bukan hanya itu, masih ada Acara Tutup Atap (Adat Kapur Sirih). Seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini.
Kedua gambar tersebut adalah upacara “Tutup Atap (Adat Kapur Sirih)” yang dilakukan saat warga ingin memasuki rumah/gedung baru. Setiap pembangunan rumah baru seorang warga, seluruh masyarakat ikut membantu, khususnya kaum bapa sebagai tukang. Upacara ini biasanya dilakukan saat penutupan atap rumah sebagai wujud syukur warga atas selesainya pembangunan rumah tersebut. Pada saat itu, seluruh kaum ibu akan membawa makanan untuk dinikmati bersama-sama. Upacara ini diiringi tarian cakalele yang menjadi ciri khas daerah ini.
Apresiasi mereka terhadap budaya sendiri membuat saya tertarik untuk memperkenalkan budaya Batak (suku saya sendiri) kepada warga melalui tarian tortor Batak sihutur sanggul. Kami menampilkan tarian tortor batak sihutur sanggul dan memberikan pengetahuan kepada warga mengenai sinopsis dan deskripsi tarian  tersebut. Saya dan rekan yang lain melatih siswa untuk memperagakan tarian Batak. Penampilan tarian ini membuat saya semakin mencintai keberagaman budaya Indonesia.
Selain aktivitas pendidikan, kami juga melakukan aktivitas kemasyarakatan bersama warga. Kebiasaan dan kehidupan masyarakat setempat yang harmonis membuat saya ingin menceritakan kehidupan mereka.







Persiapan perayaan untuk pesta selalu dilakukan warga ketika mengalami peristiwa gembira seperti syukuran upacara Agama, pernikahan, pesta adat dan  juga  ketika kehadiran tamu kehormatan (pejabat), Termasuk kami J J J.  Seluruh warga wajib ikut serta menyiapkan makanan dan minuman di dalam sabuah (sejenis wisma yang dibuat sendiri oleh warga). Pada saat perayaan seperti ini lah warga biasanya menari dan bernyayi bersama.
Mereka berkumpul bukan hanya ketika berpesta saja. Warga memiliki sikap gotong royong yang luar biasa. Seluruh warga khususnya kaum bapak dan pemuda bekerja sama dalam pembangunan Gereja. Selain dalam pembangunan gedung gereja, warga juga selalu mau ikut bekerja sama dalam pembangunan desa seperti pengadakan listrik, air dan sarana lainnya demi menunjang kehidupan warga yang lebih sejahtera. 
Seluruh warga berjuang membuat tiang listrik meski hanya dari batang kelapa. Hal ini lah yang sungguh sangat luar biasa yaitu Gotong royong. Perlu saya sampaiakan bahwa yang membuat PLTA adalah warga setempat yakni Bapak Yenisius Sero (Hanya tamat SMP). Beliau merupakan bapak angkat saya selama setahun. Beliau merupakan salah satu aset Indonesia yang sangat pantas untuk diperhitungkan. Beliau adalah ayah terbaik bagi saya (Jadi Baper). Maklumlah, saya memang sudah yatim sejak berusia 5 Tahun.
Bagi Anda yang merasa kaum Adam, jangan merasa bahwa yang ikut serta gotong royong hanya kalian, kaum Hawa juga ikut serta membantu. Mulai dari membantu mengangkat pasir, kerikil, dan yang terpenting membantu menyediakan makanan untuk kaum Adam yang telah lelah bekerja untuk desa. J J J. Peristiwa ini selalu mampu membuatku damai. I really love it. Perhatikanlah gambar berikut. Gambaran kebersamaan mereka yang sederhana namun membahagiakan dan mendaaikan. Ini yang selalu membuat saya merindukan desa ini. Peristiwa yang sangat jarang saya temukan.
Seperti yang saya katakan sebelumnya, kaum Hawa juga ikut serta membantu pembangunan desa. Misalnya saja membuat kebun desa. Desa Asimiro terletak di pesisir pantai. Letak geografis ini tentu saja mempengaruhi hasil alam yang tersedia. Selama saya di sana, saya hampir tidak pernah tidak makan ikan. Desa saya ini berlimpah ikan namun kekurangan sayuran. Sadar akan masalah tersebut, pemerintah desa meminta kaum Hawa untuk membuat kebun desa. Maka seluruh kaum ibu yang dibagi menjadi beberapa kelompok diwajibkan membuat kebun desa. Pemerintah desa yang menyediakan bibit dan warga yang memelihara. Hasil panen kebun tersebut akan dinikmati oleh warga itu sendiri secara bergilir. Seperti yang tampak pada gambar di samping.

Aktivitas lainnya yang tak kalah menarik ialah bakar ikan di pinggir pantai. Meskipun bukan rutinitas, tapi membakar ikan di pinggir pantai cukup sering dilakukan warga. Asimiro memiliki hasil alam berupa ikan yg cukup melimpah. Maka tak heran jika warga cukup sering duduk bersama di pinggir pantai sambil menikmati ikan bakar hasil tangkapan mereka sendiri. Meskipun demikian, warga sangat memperhatikan kodisi alam mereka. Warga tidak pernah mengambil ikan berlebihan dan menggunakan alat yang merusak alam demi mengambil ikan. Mereka hanya menggunakan kail (Mengail) dan panah (Bajubi). Dan mereka tidak pernah mengambil dalam jumlah yang berlebihan sebab mereka tidak melakukan pemasaran ikan (bukan sumber penghasilan). Mereka mengambil ikan hanya untuk dikonsumsi sendiri.


Dalam bidang agama, saya tidak terlalu sulit untuk beradaptasi dengan warga. Seluruh warga desa Asimiro menganut agama Kristen Protestan. Meskipun saya beragam Katolik, saya tidak merasakan perbedaan yang cukup berarti selama saya disana. Warga sangat menjunjung tinggi sikap toleransi umat beragama di desa tersebut.
Apresiasi sebesar besarnya saya sampaikan kepada seluruh warga Desa Asimiro, khusunya Bapak Kepala Desa Ferdy Sambode yang telah menyambut kami dan memberikan perlindungan serta kenyamanan bagi kami selama di Desa tersebut. Terimakasih juga kepada keluarga Besar Bapa Yenisius Sero dan Mama Sila yang telah menerima saya dengan segala kekurangan dan keterbatasan saya sebagai anak. Memenuhi kebutuhan saya secara materil maupun moril. Semoga Damai dan Keselamatan dari Allah selalu menemani perjalanan hidup Seluruh warga Desa Asimiro khusunya keluarga besar Kepala Desa dan Bapa Yenisius Sero. Secara pribadi saya juga memohon maaf atas setiap kesalahan saya selama saya melewati waktu bersama seluruh saudara/i terkasih yang ada di Asimiro. Setahun mengabdi belum mampu membuat perubahan yang signifikan. Oleh karena itu, siapapun dan dimanapun Anda Jangan pernah berhenti melakukan sesuatu untuk mengubah keaadaan menjadi lebih baik,  terkhusus generasi SM3T berikutnya.. Inilah kisahku, mana kisahmu? J
Gambar Perpisahan bersama Keluaraga SERO

*Lahir di 
Serdang, 26 Agustus 1993
Tinggal di Desa Serdang Dsn 1 Kec. Beringin. Kab. Deli Serdang, Sumatera Utara
facebook: lilyanasitanggang@yahoo.com

KOMENTAR

Nama

.id - Jejak Pencarian,1,1000 Lilin,1,1965,1,3 Tahun,1,9 November,1,Adu Domba,1,Advokat,1,Agama,1,Ahok,1,AHY,1,akbid santa benedicta pontianak,1,Aksi 3 Tahun Jokowi-JK,1,Alfred,1,Alumni,1,Anak,2,Ananda,1,Anies,1,Anis Baswedan,1,Antikorupsi,1,Argentina,1,Artikel,24,Australia,1,Bahasa,1,Bahasa Inggris,3,Bakti Sosial,1,balaikota Jakarta,1,Bengkulu,1,Berbuah,1,Berita,70,Berita. Sumatra Utara,1,Berjuang,2,Berkarya,2,Berubah,1,Bidan,1,Biografi,1,Bitcoin,1,Black Pather,1,boarding pass,1,Budi Mulia,1,Buku,4,Bumi,1,Bunuh Diri,2,cadar,1,Candu,1,Candu Pesan,1,Candu Pesan Instan,1,Cerpen,5,Changi,1,Cinta,2,Cipayung,1,Cipayung Plus,1,Cookies and Bakery,1,Cooperative Learning,1,CR7,1,Creative Minority,1,Curhat,1,Danau Toba,2,Dara. Kathulistiwa,1,Deepavali,1,Demokrasi,5,Devide et Impera,1,Dies Natalis PMKRI,1,Dilan,1,Diskusi Publik,1,Diwali,1,DIY,1,Djarot Saiful Hidayat.,1,Dogma,1,Doraemon,1,Dosa,1,DPR,2,Dunia,1,Duterte,1,Dwi,1,Emas,1,Eris,1,ESDM,1,Essai,1,Fakultas Kehutanan,1,Fandis,1,Fase,1,Feminin,1,fenomena,1,FIFA World Cup 2018,1,Film,2,Film Porno,1,Filsuf,1,Forum Orang Muda Dunia,1,Fotografi,1,Fransiskus,1,Freeport,1,Friska Sitorus,1,Fun Walk,1,Game,1,Garuda,1,Gaya Hidup,1,Gender,1,Genre Teks,1,Gereja,2,Gubernur,1,Guru,1,Hak Asasi Manusia,1,HAM,4,Harakiri,1,Harapan,1,Hari,1,Hari Bumi,1,Hari Pahlawan,1,Hati Gajah,1,Hegemoni,1,herbal,1,Hindu,1,Hoax,3,Holiday,1,Hong Kong,1,HUKUM,1,Human Rights,1,Human Trafficking,1,hutan,2,Hymne,1,Ignasius Jonan,1,Imunitas,1,Indonesia bangkit,2,informasi,2,Introver,1,ISKA,1,Istri,1,Jambi,1,Jaya,1,Jepang,1,JK,1,Jokowi,1,Kabupaten Sintang,1,Kalimantan Barat,2,Kampanye Sosial,1,Karakter,1,Katakanlah,1,Katolik,2,Kebosanan,1,Kecanduan,1,Kekerasan Anak,2,Kekerasan Polisi,1,Kekerasan Seksual,2,Kelompok Cipayung,2,Keluarga,3,Kemiskinan,1,Kepemimpinan,1,Kerabat Antropologi,1,Kerja Jaringan,2,Kesepian,1,Kita Indonesia,1,Kitabisa,1,KMK,1,Kominfo,1,Komunis,1,Konflik,1,Konten Negatif,1,Kontribusi,1,Korupsi,4,Koruptor,1,Kostulata,1,Kota,1,KPK,4,KPKR,1,Kreatif,1,Kritik Sastra,2,KSN,2,Kufur,1,Kurnia Patma,1,KWI,2,Larantuka,1,LDKM,1,Lingko Ammi,1,Liovina,1,Literasi,2,LKK,1,Low Budget,1,LPDP,2,Luka,2,Lut_q,1,Mahasiswa,3,mahasiswa katolik,1,maliku,1,Marz,1,Maumere,1,MDGs,1,Media online,1,Media Sosial,3,Membaca,6,Meme,1,Menangis,1,Menkominfo,1,Menulis,4,Mesir,1,Messi,1,Milenial,1,Minder,1,Moral Negara,1,Moralitas Negara,1,Mother Earth,1,MPAB,4,Muda,3,Myanmar,1,Nagakeo,1,Narkoba,1,Nasional,1,Natal,1,Nawa Cita,1,Negro,1,Nilai-nilai,1,Nommensen,1,NTT,3,Opini,54,Orang Muda,4,Organisasi,4,Ormas,1,Pahlawan,1,Palopo,1,Pancasila,2,Papua,1,Partai Politik,1,Passport,1,Patriarkis,1,Paus,1,Pedagang,1,Pelantikan,2,Pelantikan Anggota Baru,1,Pematangsiantar,3,Pembelajaran Kooperatif,1,Pemerintah,1,Pemimpin,2,Pemuda,2,Pemudi,1,Pendidikan,4,Pendidikan Indonesia,2,pengabdian,1,pengamat,1,Penonton,1,Penulis,1,Perang,1,Perbedaan,1,Percaya Diri,1,Perempuan,1,perkebunan,1,PERPPU,1,Persimpangan,1,Pesan Instan,1,Pewarta,1,Philosophy Award,1,PMKRI,33,PMKRI Bengkulu,1,PMKRI Cabang Bengkulu,1,PMKRI cabang maumere,1,PMKRI cabang Pematangsiantar,1,PMKRI Cabang Tondano,1,PMKRI Cabang Yogyakarta,1,PMKRI Manokwari,1,PMKRI Pematangsiantar,1,Politikus,1,Politk,1,Pontianak,2,Portugal,1,PPDKS,1,Prancis,1,Presiden,1,Pribumi,1,Puisi,14,Pulang,2,Pulang Kampung,1,Qiana,1,Radikal,1,Radikalisme,2,Refleksi,2,Refleksi Sumpah Pemuda,1,Reformasi,1,Riview,1,Robertus Dagul,1,Rohingya,2,Romo Prof. DR. Franz Magnis-Suseno,1,Ronaldo,1,Sahabat,1,Sangge-sangge,1,SBY,1,SDGs,1,SDN Nggoang,1,Sejawat,1,Sekolah,1,Seks,1,serai,1,Simalungun,1,SJ,1,sm3t,1,Sosdodihardjo,1,Sosial,2,Spirit,1,Sriwijaya Air,1,Stadium General,1,Studium Generale,1,Sukses,1,Sulawesi Utara,1,Sumpah Pemuda,1,Surat,1,Surat Terbuka,2,Suster,1,Sydney Opera House,1,Taruna Merah Putih,1,Tembok,1,Thomas,1,Tiga,1,TMP,1,Tomson,2,Tri Hari Suci,1,Trip N Vlog,1,TRIP N VLOG #PULANG KAMPUNG,1,Tungku Batu,1,UGM,1,UNIPA,1,Universitas HKBP Nommensen,1,Universitas pakuan bogor.,1,Universitas Tanjungpura,1,UNJ,1,Urban,1,Uruguay,1,UU MD3,1,Valentine,1,Vatikan,1,Vatkian,1,Veteran,1,Vox Point,1,wacana,2,wanita,1,War On Drugs,1,Wartawan,1,WiFi,1,World Youth Forum,1,WYF2017,2,YLBHI,1,Yogen,7,Yogyakarta,1,Zaman Now,1,
ltr
item
katakanlah: Jejak Tapak Satu Periode
Jejak Tapak Satu Periode
Tidak menggoyahkan keyakinanku untuk tetap melangkahkan kaki menuju dunia baru yang telah menungguku.
https://scontent.fcgk1-1.fna.fbcdn.net/v/t1.0-9/17862503_1803869479627069_9060301338380202208_n.jpg?oh=9ae3d0595b587bbccd28d7958bfcee65&oe=5ABBAFC1
https://2.bp.blogspot.com/-6T2BMYb01S0/Wi7CPN08v0I/AAAAAAAAAUU/-wjJSx6gXtw2deu6tmZ3AfFEFsuS9WDLwCEwYBhgL/s72-c/WhatsApp%2BImage%2B2017-12-10%2Bat%2B15.18.48%2B%25281%2529.jpeg
katakanlah
http://www.katakanlah.com/2017/12/jejak-tapak-satu-periode.html
http://www.katakanlah.com/
http://www.katakanlah.com/
http://www.katakanlah.com/2017/12/jejak-tapak-satu-periode.html
true
8814382905702038148
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All rekomendasi LABEL arsip CARI ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy