Cadar adalah (Hanya) Ekspresi Iman

Gambar dari sini

Oleh: B. Sosrodihardjo

Judul dalam ulasan opini ini sengaja menggunakan kata “iman”, sebagai pengganti paling sesuai dari kata “agama” yang awalnya terbayang di benak. Mengapa iman? Sebab sependek yang penulis amati, “iman atau faith“ lebih luwes dalam merepresentasikan hak memilih tiap-tiap pribadi manusia, dibandingkan dengan kata “agama”, yang kini lebih sering diasosiasikan sebagai identitas kelompok, dengan seperangkat perbedaan tafsirnya, dan terkadang menjadi awal mula perpecahan.

Subjektifitas pribadi atas pemilihan salah satu di antara dua terminologi tersebutlah yang menggiring penulisan artikel ini. Ya, menulis tentang cadar atau yang juga awam disebut niqab. Dalam kerangka “iman”, seseorang yang memilih untuk bercadar pastinya telah melalui suatu rangkaian peristiwa dalam kehidupannya, yang kemudian membuat dirinya sepenuhnya yakin, bahwa pilihan (bercadar) itu adalah pilihan terbaik dalam hidupnya. Meskipun penulis juga tidak menampik bahwa “agama”, secara lebih spesifik dapat diartikan “menaati anjuran agama (tertentu)”, adalah faktor yang pada umumnya mempengaruhi seseorang untuk menggunakan cadar, namun justifikasi terus-menerus dengan menggunakan sudut pandang “agama” –terlebih agama dalam pemahaman akhir-akhir ini- dengan mengabaikan kacamata “iman”, dapat dengan mudah menggeser persepsi masyarakat terhadap pengguna cadar jika sewaktu-waktu terjadi sesuatu yang berkaitan dengan “agama” tersebut.
Bagaimana pernyataan tersebut dapat dipahami? Mari kita mengingat sejenak berbagai peristiwa yang berkaitan dengan “cadar” dalam korelasinya dengan “agama” beberapa waktu ini.

Pada permulaan tahun 2018, masyarakat Indonesia dikejutkan dengan terbitnya surat dari Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang memandatkan adanya “pembinaan” terhadap mahasiswi bercadar di lingkungan akademiknya. Tak main-main, dalam isi surat tersebut dinyatakan bahwa mahasiswi yang “nekat” masih bercadar setelah mendapatkan pembinaan, dimohon untuk mengundurkan diri dari kampus atau diancam akan dikeluarkan dari kampus atas pertimbangan –kalau boleh disebut serantanan- bahwa “cadar” adalah salah satu simbol/indikasi dari paham radikalisme, dan oleh karenanya, menyalahi kode etik perguruan tinggi tersebut.

Meski terkesan otoriter, keluarnya keputusan ini memang tidak bisa dikatakan tanpa alasan. Mundur beberapa waktu kebelakang, tepatnya hingga pada tanggal 19 Juli 2017, pembubaran HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) menjadi arena pertarungan ideologis di ruang-ruang publik, dengan tersorotnya simpatisan-simpatisan perempuannya yang pada mayoritasnya menggunakan cadar. HTI yang terafiliasi dengan nilai-nilai radikalisme, antara lain melalui isu bahwa ingin mengganti ideologi Pancasila menjadi ideologi kekhalifahan Islam, tak pelak juga menularkan gagasan tersebut kepada simbol-simbol “tak hidup” seperti cadar, yang kerapkali didapati dalam rangkaian aksinya. Atas sorotan inilah, eksistensi cadar semakin bertalian erat dengan “agama yang bertafsir tertentu”. Ia dianggap sebagai simbol mutlak dari radikalisme, dengan mengesampingkan pribadi pengguna cadar itu sendiri, apakah memang radikal atau tidak. Inilah yang dipahami penulis sebagai bahayanya menjustifikasi cadar hanya dari “agama” dengan mengabaikan iman/keyakinan individu dalam menggunakan cadar.

Nyatanya, kemunculan HTI bukanlah satu-satunya momen krusial yang menempatkan cadar dalam asosiasi negatif. Beberapa peristiwa yang secara kebetulan dilakukan oleh perempuan yang menggunakan cadar, juga menjadi faktor lain yang menyebabkan timbulnya diskriminasi terhadap perempuan bercadar. Misalnya saja berita yang sempat viral beberapa waktu lalu tentang dua ibu bercadar yang enggan dibantu saat mengalami kecelakaan motor di jalan raya. Meski harus mengalami luka dan berdarah, ibu tersebut menolak pertolongan dari seorang lelaki pengguna jalan yang secara spontan membantunya, dengan alasan bahwa lelaki tersebut bukan muhrimnya. Pernyataan ini lantas viral sebab lelaki tersebut memposting kekecewaannya di media sosial. Sikap anti-sosial yang secara tersurat terbaca dalam kasus ini, dengan mudah semakin menyuburkan paradigma masyarakat bahwa pengguna cadar memang seorang yang harus dijauhi karena merekalah yang membatasi kehidupannya sendiri dari pergaulan sesama manusia.

Puncak dari kegelisahan terhadap cadar, lantas menyeruak pasca peristiwa peledakan bom bunuh diri satu keluarga terhadap tiga gereja di Surabaya bulan Mei lalu. Salah seorang pelaku, yakni istri dari otak bom bunuh diri tersebut, diketahui menggunakan cadar melalui pantauan CCTV yang dipasang di salah satu gereja tersebut. Ironisnya, cadar yang berbalut dengan pakaian muslimah lebar yang ia pakai, tidak hanya menjadi simbol bahwa ia seorang muslim, melainkan juga menjadi properti penunjang aksi tak berperikemanusiaannya untuk menutupi keberadaaan bom yang telah ia pasangkan di bagian sekitar perut. Atas fakta ini, fobia terhadap perempuan bercadar menjadi sulit untuk dibendung dan menimbulkan sentimen membabi-buta terhadap eksistensi perempuan bercadar.
Sentimen ini dengan cepat menyebar ke segala lapisan. Atas pengalaman pribadi, penulis dapat berkata nekat bahwa sentimen ini telah mampu melampaui rasionalitas manusia, bahkan kepada manusia-manusia yang dapat dikatakan “berpendidikan” sekalipun. Selain nampak melalui surat keputusan rektor UIN Sunan Kalijaga sebelumnya, sentimen terhadap pengguna cadar juga pernah dinyatakan oleh salah seorang pendiri yayasan perlindungan anak, yang berkawan dengan penulis di media sosial facebook. Pendapat beliau yang bernada negatif terhadap pemakai cadar tidak sekali-dua kali diposting melalui akun FB-nya. Dari sekian yang terposting, salah satu “status” ini mungkin dapat menjadi bahan diskusi bersama bahwa kebencian telah melampaui logika:

...bercadar bukan berarti teroris, tapi perempuan terrorist pasti bercadar. Nah lo, gimana bedainnya?
Dalam kalimat tersebut, nampak adanya silogisme yang dipaksakan untuk mengamini bahwa perempuan bercadar identik dengan terorisme. Kata “pasti” menjadi penunjuk penghakiman subjektif –jika boleh dikatakan tergesa-gesa- untuk menguatkan asumsi bahwa tidak ada “fakta lain” yang dapat menegasikan pernyataan tersebut. Padahal kalimat ini sendiri mengandung penghakiman yang tak kalah kejamnya dengan pihak yang selalu berusaha beliau lawan: kubu Islam radikal (dalam postingan FB-nya, diketahui secara instan –penulis hanya mengenalnya melalui FB-, bahwa beliau kerapkali menggelorakan semangat “nasionalisme” dan menyorot tajam tindakan-tindakan kaum radikal, seperti HTI, FPI, dll). Ambil contoh, jika beliau tidak suka ketika kubu Islam radikal seringkali mengangkat isu yang membenturkan sosok bermata sipit dan kulit putih (baca: cina) sebagai non-pribumi, aseng, kafir, atau sebutan stereotip lainnya, memukul rata seluruh perempuan yang memilih menggunakan cadar sebagai penganut radikalisme atau lebih-lebih seorang teroris, adalah bentukan lain dari rasisme itu sendiri. Dan hal inilah yang harusnya dicegah bersama-sama untuk meminimalisir diskriminasi-diskriminasi baru yang rentan merebak antar sesama bangsa Indonesia akibat “balas dendam” yang tak berkesudahan.

Atas berbagai kesedihan tersebut, menilik pemakaian cadar dengan sudut pandang “iman”, dirasa lebih mampu mengingatkan manusia untuk mencoba mendefinisikan ulang posisi cadar sebagai hak asasi, alih-alih sebagai sebatas simbol saja. Kembali lagi pada keyakinan penulis, iman itu adalah ranah pribadi, yang hanya diketahui oleh orang yang memilih dan menjalani. Meski memiliki agama yang sama, banyak sekali realita yang menunjukkan bahwa iman seseorang terhadap bagaimana ia menginternalisasi dan melakoni keagamaannya berbeda-beda. Perbedaan ini kembali kepada fitrah manusia itu sendiri, yang sedari diciptakan memang tiada yang sama 100% dengan yang lainnya.

Cadar boleh sama, namun individunya tidak boleh dipukul rata bahwa semua sama. Dikutip dari artikel Afrin Meyriana dalam liputan6.com1, Eva Nisa, seorang Dosen Art History, Classics and Religious Studies di University of Wellington Victoria, Selandia Baru, pernah meneliti tentang perempuan bercadar di Indonesia, November 2017 lalu. Dalam penelitiannya, Nisa mengungkapkan bahwa masyarakat tidak dapat menggeneralisasi perempuan bercadar ke dalam kelompok agama tertentu, sebab motif penggunaan cadar; pemahaman agamanya; gaya hidup; model cadar/niqab yang digunakan; serta cara mengekspresikan ajaran agamanya sangat variatif dan majemuk.

Kemajemukan ini salah satunya terepresentasi dalam sosok Hesti Sutrisno. Tampilan luarnya tak ada bedanya dengan perempuan simpatisan HTI yang sempat seringkali terlihat dalam aksi demo. Ia menggunakan cadar, lengkap dengan pakaian muslimah yang sama lebarnya dengan pakaian yang dipakai oleh pelaku teror yang sempat tertangkap CCTV. Akan tetapi, kita tak akan pernah mengetahui sisi lain cadar, jika menolak mengenal Hesti lebih dekat, meski hanya mencari tahu melalui media sosial. Ibu dengan dua anak ini ialah seorang penyelamat binatang. Tak hanya kucing, ia telah merawat 11 anjing liar di dalam rumahnya. Ya, anjing. Binatang yang oleh agama Islam dikategorikan sebagai pembawa najis berat ini, ia urus dengan penuh cinta dan ketulusan atas imannya pada firman Tuhan yang mewartakan rahmat bagi seluruh alam.

Suatu kali dalam wawancaranya di CNN Indonesia2, jawaban Hesti terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pembawa acara pun nyaris selalu menyertakan nama Tuhan, yang seakan mencerminkan pilihan keimanannya: “ini (anjing) adalah titipan Allah..”, “Allah kasih saya ujian ini (merawat anjing).. saya  dipertemukan dengannya (anjing) saat ia makan sampah dan rerumputan”, “pastilah Allah kasih penyuka dan tidak penyuka.. kalau Allah kasih penyuka mulu, enak banget ya hidup kita”. Bahkan kutipan terakhir merupakan jawaban atas pertanyaan tentang respon orang-orang terhadap pilihan hidupnya (bercadar/muslim tapi kok memelihara anjing?), terlebih dari kalangan seagamanya sendiri.

Sosok “variatif” bercadar lainnya juga pernah penulis temui dalam salah satu kegiatan sarasehan antara komunitas Tuli dan suatu komunitas keagamaan mahasiswa. Dalam pertemuan tersebut, teman Tuli berkesempatan mengajarkan bahasa isyarat secara langsung kepada seluruh anggota komunitas keagamaan dan mendapatkan apresiasi yang sungguh positif. Menariknya, dari sekian mahasiswa yang hadir, terdapat satu mahasiswi bercadar yang sangat antusias memperhatikan apa yang disampaikan oleh teman Tuli. Mata tak pernah bisa bohong dan hal ini terasa nyata ketika mata penulis beberapa kali mencoba memandangnya karena “penasaran” terhadap desas-desus perempuan bercadar. Nyatanya, energi yang begitu besar untuk mengenal teman dan hal baru terpancar begitu kuat dari dua bola matanya, yang menjadi satu-satunya inderanya yang dapat diindera.

Selepas kegiatan pun, ia menghampiri penulis dan memohon izin untuk memeluk penulis dengan erat, meski kami tak pernah benar-benar saling mengenal sebelumnya. Uniknya, ia memilih memeluk penulis yang jelas-jelas berpenampilan 180’ berbeda darinya: tidak berhijab, menggunakan kaos, mengenakan celana jins. Seperangkat tampilan yang kiranya sering didiskreditkan aliran keagamaan fanatik! Jikapun pendapat penulis ini dianggap subjektif sebab terjadi pada penulis sendiri, realitanya, gadis bercadar itu tidak hanya berhenti sampai memeluk penulis saja. Ia benar-benar membaur dengan teman-teman Tuli yang ada pada waktu itu dan turut membantu dengan kemampuan yang ia punya meski untuk berbahasa isyarat pun, ia masih terbata-bata. Gadis bercadar itu meyakini bahwa Tuhan semakin meridhoinya jika ia mampu memberikan manfaat bagi orang lain. Dan rasanya, internalisasi keimanannya ini dapat dengan mudah mengentahkan argumen bahwa mereka yang bercadar pastilah anti-sosial.

Berbagai uraian tentang cadar dan iman di atas tidak dimaksudkan penulis untuk membela secara mutlak mereka yang bercadar. Bagi penulis, tidak ada kemutlakan di dunia ini selama itu disampaikan oleh manusia. Kemutlakan hanyalah milik Tuhan, dan oleh karenanya, setiap manusia tidak dapat mengatakan bahwa ini paling benar dan itu paling salah. Namun begitu, tolok ukur kebenaran relatif di dunia, menempel kuat dalam nilai kemanusiaan. Jika pernyataan atau tindakan yang dianggap paling benar sekalipun harus menodai nilai-nilai kemanusiaan, maka hal tersebut sulit untuk dapat di-benar-kan. Begitu juga tidak boleh ada yang menghardik bahwa yang lain “salah” hanya karena ia “berbeda” dengan apa yang kita anggap benar, sebab sebagai manusia, kita memiliki keterbatasan untuk menilai orang lain hanya dari luarnya saja. Dan dalam konteks ini, “prinsip hidup” yang diimani penulis berlaku bagi cara penulis memandang pemakai cadar maupun yang tidak memakai cadar.

Kembali pada frasa “ekspresi iman”, tulisan ini mencoba mengelaborasi posisi kelompok perempuan bercadar, untuk juga mewakili kelompok perempuan “marjinal” lainnya, seperti yang berhijab namun tidak bercadar, yang muslim namun tidak berhijab dan tidak bercadar, yang ber-tattoo dan lain sebagainya, dari “titik nol” sebagai manusia. Dari nol yang sama-sama mencari nan mempelajari imannya masing-masing; dari nol untuk memilih jalan kehidupan sesuai keyakinannya masing-masing; sekaligus nol dari beragam stereotip yang menghakimi selama ia sebagai pribadi tak melakukan kekeliruan yang berarti.

Untuk itu, cerita/kalimat/kata yang terkesan “memuji atau membaik-baikan” perempuan bercadar dalam artikel ini, bukanlah lebih ditekankan pada cadar-nya, melainkan pada sifat dan sikap yang dimiliki oleh dua perempuan bercadar tersebut. Tentunya, penulis juga berharap bahwa sifat dan sikap ini dapat tercermin pula pada seluruh perempuan di Indonesia dan bahkan dunia, baik yang memilih bercadar maupun tidak. Dan alangkah baiknya, jika itu semua diawali terlebih dahulu melalui titah Pram, “berlaku adilah sejak dalam pikiran”!

Rujukan:

KOMENTAR

Nama

.id - Jejak Pencarian,3,1000 Lilin,1,1965,1,3 Tahun,1,9 November,1,Adu Domba,1,Advokat,1,Agama,1,Ahok,1,AHY,1,akbid santa benedicta pontianak,1,Aksi 3 Tahun Jokowi-JK,1,Alfred,1,Alumni,1,Anak,2,Ananda,1,Anies,1,Anis Baswedan,1,Antikorupsi,1,Argentina,1,Artikel,24,Asian Games,1,Australia,1,Bahasa,1,Bahasa Inggris,3,Bakti Sosial,1,balaikota Jakarta,1,Bengkulu,1,Berbuah,1,Berita,71,Berita. Sumatra Utara,1,Berjuang,2,Berkarya,2,Berubah,1,Bidan,1,Biografi,1,Bitcoin,1,Black Pather,1,boarding pass,1,Budi Mulia,1,Buku,4,Bumi,1,Bunuh Diri,2,cadar,1,Candu,1,Candu Pesan,1,Candu Pesan Instan,1,Cerpen,5,Changi,1,Cinta,2,Cipayung,1,Cipayung Plus,1,Cookies and Bakery,1,Cooperative Learning,1,CR7,1,Creative Minority,1,Curhat,1,Danau Toba,2,Dara. Kathulistiwa,1,Deepavali,1,Demokrasi,5,Devide et Impera,1,Dies Natalis PMKRI,1,Dilan,1,Diskusi Publik,1,Diwali,1,DIY,1,Djarot Saiful Hidayat.,1,Dogma,1,Doraemon,1,Dosa,1,DPR,2,Dunia,1,Duterte,1,Dwi,1,Emas,1,Eris,1,ESDM,1,Essai,1,Fakultas Kehutanan,1,Fandis,1,Fase,1,Feminin,1,fenomena,1,FIFA World Cup 2018,1,Film,2,Film Porno,1,Filsuf,1,Forum Orang Muda Dunia,1,Fotografi,1,Fransiskus,1,Freeport,1,Friska Sitorus,2,Fun Walk,1,Game,1,Garuda,1,Gaya Hidup,1,Gender,1,Genre Teks,1,Gereja,2,Gubernur,1,Guru,1,Hak Asasi Manusia,1,HAM,4,Harakiri,1,Harapan,1,Hari,1,Hari Bumi,1,Hari Pahlawan,1,Hati Gajah,1,Hegemoni,1,herbal,1,Hindu,1,Hoax,3,Holiday,1,Hong Kong,1,HUKUM,1,Human Rights,1,Human Trafficking,1,hutan,2,Hymne,1,Ignasius Jonan,1,Imunitas,1,Indonesia bangkit,2,informasi,2,Introver,1,ISKA,1,Istri,1,Jambi,1,Jaya,1,Jepang,1,JK,1,Jokowi,1,Kabupaten Sintang,1,Kalimantan Barat,2,Kampanye Sosial,1,Karakter,1,Katakanlah,1,Katolik,2,Kebosanan,1,Kecanduan,1,Kekerasan Anak,2,Kekerasan Polisi,1,Kekerasan Seksual,2,Kelompok Cipayung,2,Keluarga,3,Kemiskinan,1,Kepemimpinan,1,Kerabat Antropologi,1,Kerja Jaringan,2,Kesepian,1,Kita Indonesia,1,Kitabisa,1,KMK,1,Kominfo,1,Komunis,1,Konflik,1,Konten Negatif,1,Kontribusi,1,Korupsi,4,Koruptor,1,Kostulata,1,Kota,1,KPK,4,KPKR,1,Kreatif,1,Kritik Sastra,4,KSN,2,Kufur,1,Kurnia Patma,2,KWI,2,Larantuka,1,LDKM,1,Lingko Ammi,1,Liovina,1,Literasi,2,LKK,1,Low Budget,1,LPDP,2,Luka,2,Lut_q,1,Mahasiswa,3,mahasiswa katolik,1,maliku,1,Marz,1,Maumere,1,MDGs,1,Media online,1,Media Sosial,3,Membaca,6,Meme,1,Menangis,1,Menkominfo,1,Menulis,4,Mesir,1,Messi,1,Milenial,1,Minder,1,Moral Negara,1,Moralitas Negara,1,Mother Earth,1,MPAB,4,Muda,3,Myanmar,1,Nagakeo,1,Narkoba,1,Nasional,1,Natal,1,Nawa Cita,1,Negro,1,Nilai-nilai,1,Nommensen,1,NTT,3,Opening Ceremony,1,Opini,56,Orang Muda,4,Organisasi,4,Ormas,1,Pahlawan,1,Palopo,1,Pancasila,2,Papua,1,Partai Politik,1,Passport,1,Patriarkis,1,Paus,1,Pedagang,1,Pelantikan,2,Pelantikan Anggota Baru,1,Pematangsiantar,3,Pembelajaran Kooperatif,1,Pemerintah,1,Pemimpin,2,Pemuda,2,Pemudi,1,Pendidikan,4,Pendidikan Indonesia,2,pengabdian,1,pengamat,1,Penonton,1,Penulis,1,Perang,1,Perbedaan,1,Percaya Diri,1,Perempuan,1,perkebunan,1,PERPPU,1,Persimpangan,1,Pesan Instan,1,Pewarta,1,Philosophy Award,1,PMKRI,33,PMKRI Bengkulu,1,PMKRI Cabang Bengkulu,1,PMKRI cabang maumere,1,PMKRI cabang Pematangsiantar,1,PMKRI Cabang Tondano,1,PMKRI Cabang Yogyakarta,1,PMKRI Manokwari,1,PMKRI Pematangsiantar,1,Politikus,1,Politk,1,Pontianak,2,Portugal,1,PPDKS,1,Prancis,1,Presiden,1,Pribumi,1,Puisi,14,Pulang,2,Pulang Kampung,1,Qiana,1,Radikal,1,Radikalisme,2,Refleksi,2,Refleksi Sumpah Pemuda,1,Reformasi,1,Review Buku,2,Riview,1,Robertus Dagul,1,Rohingya,2,Romo Prof. DR. Franz Magnis-Suseno,1,Ronaldo,1,Sahabat,1,Sangge-sangge,1,SBY,1,SDGs,1,SDN Nggoang,1,Sejawat,1,Sekolah,1,Seks,1,serai,1,Simalungun,1,SJ,1,sm3t,1,Sosdodihardjo,1,Sosial,2,Spirit,1,Sriwijaya Air,1,Stadium General,1,Studium Generale,1,Sukses,1,Sulawesi Utara,1,Sumpah Pemuda,1,Surat,1,Surat Terbuka,2,Suster,1,Sydney Opera House,1,Taruna Merah Putih,1,Tembok,1,Thomas,1,Tiga,1,TMP,1,Tomson,2,Tomson Sabungan Silalahi,2,Tri Hari Suci,1,Trip N Vlog,1,TRIP N VLOG #PULANG KAMPUNG,1,Tungku Batu,1,UGM,1,UNIPA,1,Universitas HKBP Nommensen,1,Universitas pakuan bogor.,1,Universitas Tanjungpura,1,UNJ,1,Urban,1,Uruguay,1,UU MD3,1,Valentine,1,Vatikan,1,Vatkian,1,Veteran,1,Vox Point,1,wacana,2,wanita,1,War On Drugs,1,Wartawan,1,WiFi,1,World Youth Forum,1,WYF2017,2,YLBHI,1,Yogen,7,Yogyakarta,1,Zaman Now,1,
ltr
item
katakanlah: Cadar adalah (Hanya) Ekspresi Iman
Cadar adalah (Hanya) Ekspresi Iman
Cadar boleh sama, namun individunya tidak boleh dipukul rata bahwa semua sama.
http://rmol.co/images/berita/normal/2018/03/423715_08575308032018_cadar_mahasiswa.jpg
katakanlah
http://www.katakanlah.com/2018/07/cadar-adalah-hanya-ekspresi-iman.html
http://www.katakanlah.com/
http://www.katakanlah.com/
http://www.katakanlah.com/2018/07/cadar-adalah-hanya-ekspresi-iman.html
true
8814382905702038148
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All rekomendasi LABEL arsip CARI ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy