PANDEMI DAN PANCASILA


PANDEMI DAN PANCASILA
Oleh: Reijefki Irlastua*

     Apakah masyarakat merasa Pancasila sudah usang atau lebih tertarik dengan pemikiran baru yang lebih relevan?
     Apakah kita masih diam padahal sadar penuh bahwa keretakan bangsa seribu kali lipat lebih fatal dari pandemi covid-19?

Beberapa waktu terakhir, iringan gejolak berbagai lini kehidupan manusia terus berirama. Sejak awal tahun media massa terus memberitakan tingginya virulensi corona virus disease-19 (Covid-19). Kota Wuhan terus dikabarkan sebagai episentrum tersebarnya sebuah penyakit yang bergejala sesak, demam hingga kematian. Ribuan orang terdampak dan harus segera mendapatkan penanganan khusus berupa isolasi dan pengobatan yang belum terstandarisasi.

Kawasan di berbagai belahan dunia menerapkan upaya untuk memagari masifnya penyebaran virus dari keluarga coronavirus ini. Bersama dengan itu, lumpuh sektor-sektor penting yang menghidupi manusia modern. Transportasi terpaksa berhenti yang membawa perlambatan sektor logistik dan pergerakan manusia antar wilayah. Sektor ekonomi terpukul dengan cepat sehingga hiruk-pikuk perkotaan melandai. WHO sebagai organisasi PBB yang membidangi kesehatan melalui Direktur Jenderal Tedros Adhanom menyatakan kondisi ini sebagai pandemi pada hari Rabu, 11 Maret 2020. Istilah pandemi menjadi tidak asing terdengar. Kata yang menurut definisi KBBI adalah penyakit yang berjangkit serempak pada wilayah geografi yang luas.

Fakta membuktikan bahwa negara mampu melampaui batas-batas kemajuan karena adanya musuh bersama yang berhasil menyeragamkan ideologi ribuan persepsi manusia dalam satu lingkaran bangsa mereka. Rakyat Singapura sepemikiran untuk memenangkan persaingan hidup dengan bangsa melayu tetangganya. Rakyat Amerika sepemikiran untuk berinovasi tanpa batas untuk mendapatkan perhatian dalam perang dingin dengan Uni Sovyet. Gelombang kemajuan Korea bergerak cepat karena himpitan saudaranya Korea Utara dan Jepang tetangganya pula. Begitu halnya Tiongkok menyeragamkan upaya untuk maju dengan menciptakan Amerika sebagai “musuh” dan patokan dalam kesukesan perdagangan.

Pendiri Negara Indonesia telah mencurahkan segala kecakapan mereka pada waktu itu, untuk menyelesaikan penggalian ideologi yang berhasil menyeragamkan persepsi ribuan etnis dan istiadat pada belasan ribu pulau di gugusan Nusantara. Melalui sidang BPUPKI kalimat pancasila yang merupakan serat dari fragmentasi nilai luhur asli Nusantara disepakati unuk menyeragamkan dan menyatukan suku menjadi sebuah bangsa yang memiliki musuh berupa penjajahan. Perjalanan tahun setelah tahun 1945, gelombang kebangsaan yang telah mengalami loncatan sejak tahun 1908 dan penegasan sumpah pemuda 1928 terjadi begitu dahsyat. Segala sendi kehidupan seratus lima puluh juta rakyat saat itu dengan cepat berubah, sorak sorai kebangsaan dengan cepat melipatganda. Radio-radio memberitakan hingga sudut Nusantara seketika pula bendera merah putih dipandang sangat sakral sebagai simbol jantung pemompa kesatuan berbangsa.

Kondisi sangat memprihatinkan terasa nyata sejak pesta demokrasi tahun 2014. Politik identitas membelah kesamaan persepsi bangsa. Arah demokrasi menjadi tidak sehat, keretakan bangsa merambat. Sekelompok masyarakat diarahkan dan terus disuarakan berulang-ulang agar menjadi masyarakat yang berbeda dengan kelompok masyarakat lainnya. Alam bawah sadar masyarakat digiring agar mencintai kelompok tertentu sekaligus membenci tokoh lainnya yang sebangsa. Kondisi tentu berbeda dengan pergerakan separatis di sudut-sudut NKRI yang bisa ditumpas dalam beberapa operasi militer. Sungguh berbalik dengan ketika seluruh elemen bangsa sepakat dan semangat untuk mereformasi pemerintahan pada tahun 1998. Keadaan ini beriring pada kasus Gubernur Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama dan mencapai puncak ketika Pesta Demokrasi lima tahun selanjutnya. Upaya maksimal untuk meneguhkan Ideologi Pancasila dan pilar kebangsaan yang dipimpin Presiden Joko Widodo tidak memberikan dampak signifikan. Apakah masyarakat merasa pancasila sudah usang atau  lebih tertarik dengan pemikiran baru yang lebih relevan? Apakah upaya tujuh puluh lima tahun merawat ideologi dan kebhinekaan sia-sia?

Kejutan gelombang besar Covid-19 yang dikabarkan kepada seluruh dunia membuat  manusia dipaksa patuh dan menyamakan pemahaman akan pola hidup sehat dan bersih. Apalagi berita kematian pada penderita beresiko tinggi yakni orang tua dan anak-anak serta penderita berpenyakit penyerta seperti diabetes terus terkabar. Status pandemi dengan cepat mempengaruhi semua sendi kehidupan manusia, terutama cara-cara hidup sehat yang sudah disepakati bersama untuk mempertahankan hidup sehat. Upaya serentak untuk menghasilkan kesamaan persepsi pola kehidupan untuk pengendalian secepat mungkin dilakukan. Mencuci tangan sesering mungkin, menjaga jarak interaksi dengan sesama manusia hingga membiasakan diri menggunakan masker setiap hari. Setiap hari media massa dan media sosial bersahutan memberitakan segala aspek mengenai penyakit ini. Masyarakat mulai terbiasa dengan perubahan pola kerja dari rumah. Pelajar dan mahasiswa memaksimalkan pembelajaran dari rumah hingga telemedicine menjadi pilihan utama tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan bagi pasien. Walaupun, perubahan pola ini tidak memberikan pilihan bagi kalangan yang mengandalkan satu hari kehidupan pada satu hari bekerja. Mereka tetap berjuang mempertahankan hidup dengan menerapkan sedikit sekali perubahan pola kehidupan yang seharusnya.

Apakah cara-cara pola hidup sehat sederhana seperti mencuci tangan, tidak mengabaikan istirahat dan peduli nutrisi hingga tidak menganggap remeh penderita resiko tinggi dan penyakit penyerta adalah yang cara lama yang sudah usang pula? Ternyata tidak, kesadaran manusialah yang terabaikan. Pemikiran kita selama ini cenderung mengurangi prioritas pemahaman akan perilaku ini. Padahal inilah cara terbaik yang diberitakan untuk mengendalikan virulensi Covid-19. Masyarakat Indonesia selama ini telah menurunkan prioritas pemahaman mereka dalam menghayati kunci utama dalam mengisi kemerdekaan. Filsafat paling dasar berupa kesamaan persepsi dan ideologi dalam membangun bangsa dan negara di segala lini. Terutama pada kelompok masyarakat milenial yang gagal menyerap teladan Pancasila dari generasi terdahulunya sambil menghadapi serangan paham-paham baru yang tampaknya lebih benar dan menarik.

Perubahan besar dalam memahami dan memaknai ideologi pancasila sangat diperlukan untuk mengendalikan keretakan bangsa. Masyarakat Indonesia harus cepat kembali menyamakan persepsi mengenai sakralnya ideologi pancasila dalam menumpas sekat sekat prinsipil yang berulang-ulang memperlambat kemajuan. Harus cepat berlari dan mengejar pergerakan negara-negara lain dalam membangun kemajuan. Pemerintah harus segera beralih dari cara-cara biasa dalam meneguhkan ideologi pancasila. Pemerintah tidak boleh sendirian pula hanya dengan mengandalkan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) nya untuk membuat buku panduan atau seminar-seminar. Generasi muda harus terlibat dan kreatif dalam mengabarkan Pancasila. Milenial harus segera menghiasi gawai-gawai dengan bersuara betapa pentingnya ideologi ini. Generasi tua dan tokoh agama harus meneladankan sikap penghayatan sila Ketuhanan Yang Maha Esa, menegakkan kemanusiaan adil dan beradab kepada semua manusia, membina persatuan akan semua keberagaman di Indonesia, menjunjung musyawarah dalam setiap keputusan dan bergerak untuk mewujudkan keadilan sosial di setiap jangkauan pengaruhnya masing-masing. Keretakan bangsa dan kemajuan yang sudah tertinggal jauh seribu kali lipat lebih berbahaya dari covid-19. Jangan anggap remeh keretakan internal yang akan menjadi bom waktu yang cepat atau lambat bisa bergejolak fatal. Mari serentak mempandemikan Pancasila, untuk menyeragamkan pemahaman akan pola kebangsaan terbaik bagi bangsa Indonesia.

*Penulis adalah Dokter Lulusan Universitas Sriwijaya yang kini menjadi Dokter Khusus Covid-19 di RSUD Sungai Lilin. Pada masa kuliah adalah Ketua Lembaga Pers Mahasiswa FK UNSRI dan Sekretaris Jenderal Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia cabang Palembang.

KOMENTAR

Ads

Nama

.id - Jejak Pencarian,4,#fempop,1,1000 Lilin,1,11TahunKompasiana,1,1965,1,1998,1,2018,1,2019,3,3 Tahun,1,4 Pilar MPR-RI,1,9 November,1,Ad Hominem,1,Adu Domba,1,Advokasi,2,Advokat,1,Agama,1,Agraria,1,Ahok,1,AHY,1,Aibon,1,akbid santa benedicta pontianak,1,Aksi,1,Aksi 3 Tahun Jokowi-JK,1,Aktivis Muda Katolik,1,Alfon Hutabarat,2,Alfred,1,Alfredo,1,Alfredo Pance Saragih,1,Aliansi Mahasiswa Siantar Simalungun (AMSS),3,Almamater,1,Alumni,1,Amorphophallus gigas,1,Amorphophallus paeoniifolius,1,Amorphophallus prainii,1,Amorphophllus titanumn Ades Galingging,1,AMSB,1,Anak,2,Ananda,1,Ancaman Pemilu,1,Andalas,1,Andreas Saragih,1,Anies,1,Anis Baswedan,1,Antikorupsi,1,Aquaman,1,Aquaponik,1,Araceae,1,Argentina,1,Artikel,51,Asian Games,1,Asrida Sigiro,2,Asuransi Jiwa Kresna,1,Australia,1,Bahasa,1,Bahasa Inggris,6,Bakti Sosial,1,balaikota Jakarta,1,Bapa Kami,1,Bedah Buku,1,Beijing,1,Belajar,1,Belajar Online,1,Bengkulu,1,Berbuah,1,Beriata,1,Berita,206,Berita Sumatera Utara,8,Berita. Sumatra Utara,2,Berjuang,2,Berkarya,2,Bersumpah,1,Berubah,2,Beruntung,1,BeyondBlogging,1,Bhinneka Tunggal Ika,1,Bidan,1,Bintang Emon,1,Biografi,1,Bisnis,1,Bisnis Masa Kini,1,Bitcoin,1,Black Panther,1,Black Pather,1,boarding pass,1,BOM Makassar,2,Budi Mulia,1,Budi Purba,1,Bukopin,1,Buku,6,Bully,1,Bumi,1,Bumi Manusia,1,BUMN,2,Bunga Bangkai,1,Bunuh Diri,2,Bupati Simalungun,1,Buruh,1,Cacat Nalar,1,cadar,1,Camping Rohani,2,Candu,1,Candu Pesan,1,Candu Pesan Instan,1,Capres,1,Carla,2,Carla Makay,2,Catatan,2,Catatan Akhir Tahun,1,Cawapres,1,Cerita,1,Cerpen,7,Cewek,1,Changi,1,chatting,1,Cinta,3,Cipayung,8,Cipayung Plus,2,cipayungpluskendari,1,Cipta Kerja,3,Cookies and Bakery,1,Cooperative Learning,1,Corona,1,Corona Virus,4,Cosmas Batubara,1,COVID-19,25,CPNS,1,CR7,1,Crazy Rich Asians,1,Creative Minority,1,Curhat,1,da Lopez,1,Dakwah,1,Danau Toba,2,Dara. Kathulistiwa,1,Daring,2,Data,1,Deepavali,1,Deklarasi,2,Demokrasi,5,Demokrat,1,Desa,1,Desa Dampingan,1,Devide et Impera,1,Dewi,1,Di Jakarta Tuhan Diburu dan Dibunuh,1,Dicky,1,Dies Natalis PMKRI,1,digital,1,Dilan,2,Dion Dhima,1,Disinfekatan,1,Diskusi Publik,2,Disrupsi,1,Ditolak,1,Diwali,1,DIY,1,Djarot Saiful Hidayat.,1,DKJ,1,Doa,1,Dogma,1,Dolokmarlawan,1,Donor Darah,1,Doraemon,1,Dosa,1,DPC PMKRI Jakarta Pusat,1,DPD RI,1,DPP GmnI,1,DPR,2,DPRD Kota Pematangsiantar,1,Drama,1,Dunia,1,Duterte,1,Dwi,1,Edis Galingging,1,Ekaristi,2,Elit,1,Emas,1,Eris,1,ESDM,1,Esron,3,Essai,3,Fakfak,1,Fakultas Kehutanan,1,Fandis,1,Fase,1,Felix,1,Felix Nesi,2,Feminin,1,Feminis,3,Feminism,2,fenomena,1,Ferdian,1,FIFA World Cup 2018,1,Film,3,Film Porno,1,Filsuf,1,Finansial,1,Forman,2,Forum Orang Muda Dunia,1,Fotografi,1,Fransiskus,1,Fratelli Tutti,1,Freeport,1,Frengki Simamora,2,Friska Sitorus,2,Fun Walk,1,G30S PKI,1,Gading,1,Galang Dana,1,Game,1,Garuda,1,Gaya Hidup,1,Gender,1,Genre Teks,1,Gereja,2,Germahi,1,Gilbert Lumoindong,1,GMKI,7,GMNI,4,Goethe-Institut Indonesien,1,Gubernur,1,Gunungsitoli,1,Guru,2,Hak Asasi Manusia,2,HAM,4,Harakiri,1,Harapan,1,Hari,1,Hari Bumi,2,Hari guru,1,Hari Kemerdekaan,1,Hari Pahlawan,1,Hati Gajah,1,Hebei,1,Hegemoni,1,Hendra Sinurat,1,Henry Golding,1,herbal,1,Himpunan Pemuda dan Mahasiswa Nias,1,Hinca Pandjaitan,1,Hindu,1,HMI,1,hoaks,2,Hoax,3,Holiday,1,Hong Kong,1,HUKUM,2,Human Rights,1,Human Trafficking,1,Hungary,1,HUT RI,1,hutan,2,Hymne,1,ID42NER,1,Ignasius Jonan,1,Ignatius Pati Ola,1,IKASANTRI,1,IMPD,1,Imunitas,1,Indonesia,1,Indonesia bangkit,2,informasi,2,Internet,4,Introver,1,Investasi,1,IPB,2,ISKA,1,Istirahat,1,Istri,1,Jakarta Pusat,1,Jambi,1,Jarot Winarno,1,Jaya,2,Jenazah,1,Jepang,1,Jimly Institute,1,JK,1,Joker,1,Jokowi,4,Jomblo,1,Jurnalis,1,Kabupaten Sintang,1,Kalbar,2,Kalimantan Barat,2,Kampanye Sosial,1,Kampus,1,Kampus GIHON,1,Karakter,1,Kartini,3,kasih,1,Katakanlah,1,Katolik,7,Kawin Tangkap,1,keadilan,2,Kebangsaan,1,Kebebasan Berpendapat,1,Kebosanan,1,Kecanduan,1,Kecelakaan Pesawat,1,Kejagung,1,Kejaksaan Negeri Sinatar,1,Kekerasan Anak,2,Kekerasan Polisi,1,Kekerasan Seksual,2,Kekristenan,1,Kelompok Cipayung,2,Keluarga,3,Kemeristekdikti,1,Kemiskinan,1,Kendari,1,Kepemimpinan,1,Keperawanan,1,Kepercayaan,1,Kerabat Antropologi,1,Kerja Jaringan,2,Kesehatan,1,Kesepian,1,Keuskupan Agung Medan,1,Kita Indonesia,2,Kita_Indonesia,1,Kitabisa,1,KKNT,1,KMDA,1,KMDM,5,KMDM.,1,KMK,1,KMK USI,1,KNPI,2,KNPI Siantar,2,KOKASI,1,Komda III,2,KOMDA SUMBAGUT,2,Kominfo,1,Kompas,1,Kompasiana,1,Komunitas,1,Konferensi Studi Nasional,1,Konflik,1,Konsensus,1,Konsumtif,1,Konten Negatif,1,Kontribusi,1,Korupsi,8,Koruptor,1,Kostulata,1,Kota,1,Kota Pematangsiantar,2,KPK,9,KPKR,1,Kreatif,1,Kriminalisasi,1,Kristen,1,Kritik Sastra,6,KSA,1,KSN,3,KSR,2,KTD,1,Kuala Namu,1,Kufur,1,KUPIKIR,2,Kurnia Patma,2,KWI,2,Lamada,1,Larantuka,1,Laudato Si',1,LDK,1,LDKM,1,Lem Aibon,1,Lince Sipayung,1,Lingko Ammi,1,Lingkungan,1,Liovina,1,Literasi,3,LKK,1,Lockdown,1,Logical Fallacy,1,Lomba,1,Lomba Cipta Opini,1,Low Budget,1,LPDP,2,LPPM Unand,1,LQ Indonesia Lawfirm,1,Luka,2,Lukisan,1,Lut_q,1,MABIM,2,Madura,1,Mahasiswa,8,mahasiswa katolik,1,maliku,1,Maluku,1,Manusia-manusia tidak berguna,1,Margasiswa,1,Mario,1,Maritim,1,Marz,1,Masa Bimbingan,1,Masyarakat Adat,5,Maumere,1,MDGs,1,Medan,1,Media online,1,Media Sosial,3,Membaca,6,Meme,1,Menangis,1,Mengajar,1,menghapal,1,Menkominfo,1,Menkopolhukam,1,Menpora,1,Menristekdikti,1,Menulis,7,Mesir,1,Messi,1,Messiah,1,MHR,1,Migran,1,Milea,1,Milenial,2,Millennial,1,Minder,1,Mohctar Lubis,1,Moral Negara,1,Moralitas Negara,1,Mother Earth,1,MPA,1,MPAB,8,MPR,1,Muda,5,Myanmar,1,Nagakeo,1,Napza,1,Narkoba,1,Nasional,1,Natal,3,Nawa Cita,1,New Normal,2,Ngiler,1,Nias,3,Nilai,1,Nilai-nilai,1,Noam Chomsky.,1,Nommensen,1,Novel,1,Novel Baswedan,1,NTB,1,NTT,4,Nyai Ontosoroh,1,OJK,1,Ombibus Law,1,OMK,1,Omnibus Law,4,Opening Ceremony,1,Opini,112,Orang Miskin,1,Orang Muda,4,Orang Tua,1,Organisasi,4,Ormas,1,OrmasKatolikSultra,1,Pacaran,1,Padang,1,Pagi Bening,1,Pahlawan,3,Palopo,1,Pancasila,4,Pandemi,5,Papua,6,Parapat,1,Paroki Jalan Bali,1,Partai Politik,1,Passport,1,Patriarkis,1,Paus,1,Paus Fransiskus,2,PDKS,1,Pedagang,1,Pedidikan Indonesia,1,Pejuang,1,Pelaka,1,Pelantikan,3,Pelantikan Anggota Baru,1,Pelatihan jurnalistik,3,Peluang,1,Pemahaman,1,Pematangsiantar,14,Pematangsiantar.,2,Pembelajaran,2,Pembelajaran Kooperatif,1,Pemberantasan,1,Pemerintah,2,Pemilu,1,Pemimpin,2,Pemko pematangsiantar,2,Pemuda,5,Pemuda Milenial,1,Pemudi,1,Pencemaran Nama Baik,1,Pendidikan,9,Pendidikan Formal,1,Pendidikan Indonesia,2,pengabdian,1,pengamat,1,Pengantar,1,Penghinaan,1,Penjajahan,1,Penonton,1,Penulis,1,Penyalahgunaan Internet,1,Peradaban,1,Perang,1,Perbedaan,1,Percaya Diri,1,Perempuan,3,Perguruan Tinggi,1,Perjuangan,2,perkebunan,1,PERPPU,2,Persepuluhan,1,Persimpangan,1,Pertanian Berkelanjutan,1,Pesan Instan,1,Pesawat,1,Pewarta,1,Philosophy Award,1,Pidana,1,PIDATO,1,Pidato Presiden,1,Pilkada,5,Pilkada Samosir,1,Pilpres,1,PKB,1,PMII,1,PMKRI,91,PMKRI Bengkulu,2,PMKRI Cab. Palopo,1,PMKRI Cab. Pematangsiantar,5,PMKRI CAB.PEMATANGSIANTAR,8,PMKRI Cabang Bengkulu,1,PMKRI Cabang Kupang,1,PMKRI cabang maumere,1,PMKRI cabang Pematangsiantar,3,PMKRI Cabang Tanah Karo,1,PMKRI Cabang Tondano,1,PMKRI Cabang Yogyakarta,1,PMKRI Kendari,4,PMKRI Manokwari,1,PMKRI Pematangsiantar,7,PMKRI Ruteng,1,Politik,1,Politikus,1,Politisasi Agama,1,Politk,1,Pontianak,2,Pop,1,Portugal,1,PPDKS,1,Prabowo,1,Practice,1,Prancis,1,Presiden,1,Pribumi,1,PSI,1,psikologi,1,PUan Maharani,1,Puisi,27,Pulang,2,Pulang Kampung,1,Qiana,1,Quilt,1,R. Wahyu Handoko,1,Radikal,1,Radikalisme,3,RAKERCAB,1,Ranperda,1,Rasisme,2,Refleksi,3,Refleksi Sumpah Pemuda,1,Reformasi,1,Regenerasi,1,Reijefki Irlastua,1,Represif,1,Resesi,1,retreat,1,retret,1,Reuni,1,Review Buku,2,Revisi UU KPK,2,Riview,1,Rizky Sitanggang,1,Robertus Dagul,1,Rohingya,2,Romantisme,1,Romo Prof. DR. Franz Magnis-Suseno,1,Ronaldo,1,RUACC,1,Ruang Publik,1,Sahabat,1,Samuel Manurung,1,Sangge-sangge,1,Santri,1,SBY,1,SDA,1,SDGs,1,SDM,1,SDN Nggoang,1,Sejarah,1,Sejawat,1,Sekolah,2,Seks,1,Selvi,1,Seminar Nasional,3,Seni,1,Sensory Ethnography,1,serai,1,Sesat Pikir,1,Shelter,1,SiaranPersKemenristekdikti,1,sibuk,1,Sihaporas,2,Simalungun,3,Sinetron,1,Sintang,1,SJ,1,SLB,1,sm3t,1,Sosdodihardjo,1,Sosial,3,Spirit,1,Sriwijaya Air,1,Stadium General,1,Studium Generale,1,Study Tour,1,Study Tour Ke Tiongkok,1,Suara Kecil Rakyat,1,Sukses,1,Sulawesi Utara,1,Sumatera Barat.,1,Sumatera Utara,1,Sumatera Utara.,1,Sumba,1,Sumpah,1,Sumpah Pemuda,2,Surat,2,Surat Terbuka,2,Surya Tjandra,1,Suster,1,Sydney Opera House,1,Taiwan,1,Taruna Merah Putih,1,Teater Arsip,1,Teater Kecil,1,Teknologi,1,Tembok,1,Temu Pemuda Lintas Iman Kalbar,1,TEPELIMA,1,Thomas,1,Tiga,1,TIM,2,Tiongkok,1,TKA,1,TMP,1,Toleransi,2,Tomson,5,Tomson Sabungan Silalahi,8,Transformasi,2,Tri Hari Suci,1,Trip N Vlog,1,TRIP N VLOG #PULANG KAMPUNG,1,Tungku Batu,1,UGM,1,UKT,1,UMKM,1,UNIPA,1,Universitas HKBP Nommensen,1,Universitas pakuan bogor.,1,Universitas Simalungun,1,Universitas Tanjungpura,1,UNJ,1,Urban,1,Uruguay,1,UU Cipta Kerja,1,UU MD3,1,Valentine,3,Vatikan,2,Vatkian,1,Veteran,1,Vian,1,Visi,1,vocabularies,1,Vokasi,1,Vox Point,1,wacana,2,Walikota,1,walikota pematangsiantar,1,wanita,1,War On Drugs,1,Wartawan,1,Wewowo,1,whatsapp,1,Who Am I?,1,WiFi,1,Winda Astari,1,World Youth Forum,1,WYF2017,2,Yesus,2,YLBHI,1,Yogen,7,Yogen Sogen,2,Yogyakarta,1,Young Entrepreneurship,1,YouTuber,1,Zaman Now,1,
ltr
item
katakanlah: PANDEMI DAN PANCASILA
PANDEMI DAN PANCASILA
Keretakan bangsa dan kemajuan yang sudah tertinggal jauh seribu kali lipat lebih berbahaya dari covid-19. Jangan anggap remeh keretakan internal yang akan menjadi bom waktu yang cepat atau lambat bisa bergejolak fatal. Mari serentak mempandemikan Pancasila, untuk menyeragamkan pemahaman akan pola kebangsaan terbaik bagi bangsa Indonesia. PANDEMI DAN PANCASILA
https://1.bp.blogspot.com/-Rf3dSfSvxOA/XtqE9VpOv2I/AAAAAAAABN8/QWYLJMK2oSE5AAfOVsB_945z4gGVeRONwCLcBGAsYHQ/s640/Rei.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-Rf3dSfSvxOA/XtqE9VpOv2I/AAAAAAAABN8/QWYLJMK2oSE5AAfOVsB_945z4gGVeRONwCLcBGAsYHQ/s72-c/Rei.jpg
katakanlah
http://www.katakanlah.com/2020/06/pandemi-dan-pancasila.html
http://www.katakanlah.com/
http://www.katakanlah.com/
http://www.katakanlah.com/2020/06/pandemi-dan-pancasila.html
true
8814382905702038148
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All rekomendasi LABEL arsip CARI ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy