ISTRIKU TERSAYANG


ISTRIKU TERSAYANG


/1/

Suatu hari kau akan mendengar keluhan istrimu yang mulai bosan menjalani rumah tangga. Istrimu selalu mengatakan bahwa rumah tangga bukan hanya soal kau sebagai suami dan istrimu yang melayanimu. Kau yang sebenarnya sudah berusaha memenuhi segala kebutuhan tetap mendengar segala ocehan itu. Sebelum berangkat bekerja, ketika sedang bekerja, ketika baru sampai rumah sehabis bekerja, dan bahkan beberapa saat sebelum tidur, istrimu terus mengatakan hal yang sama: aku bosan.

Kau, saat itu, menanggapi semuanya dengan biasa dengan jawaban yang paling sederhana: diam. Jawaban itu, jawaban yang tak pernah diinginkan oleh istrimu. Satu-satunya alasan kau jadikan diam sebagai jawaban adalah kau sendiri sudah bosan. Kau sungguh sudah merasa bosan, tapi itu peraaan yang berbeda. Bosan yang kau rasakan adalah bosan selalu mendengar keluhan kebosanan istrimu. Saat itu suatu masalah akan menghampirimu dari segala penjuru.

Dan peristiwa itu menimpamu: kau terperosok ke dalam ruang kesepian.

Sebuah pertengkaran bahkan sepertinya lebih menyenangkan buatmu. Kau mengetahui bahwa kesepian sebenarnya hanya ruang kosong yang tidak benar-benar kosong. Di sana kau lihat dirimu yang terus mencari jalan keluar. Usahamu hanya akan membuatmu lebih terpuruk jika kau tak menemukan sesuatu yang lain. Lalu kau menyimpulkan bahwa kesepian berbeda dengan kesendirian. Ketika kau yang sedang merasa sepi itu menoleh ke arah mana pun, ternyata mereka ada di sana juga. Kau menemukannya. Mereka yang menemanimu tapi tidak bisa membantumu itu berwujud permasalahan-permasalahan, seperti dirimu sendiri dan istrimu.

Mulutmu telah terkunci di ruang kesepian itu. Kau dan istrimu itu hanya akan saling memandang. Sebuah pandangan yang asing. Siapa pun yang melihat pandangan itu akan tahu bahwa sesuatu sedang terjadi. Kau mencoba bergerak dan berusaha menjelaskan semuanya, begitu pun istrimu, tapi kau sama tidak bisa melakukan apa-apa. Tak ada lagi tempat yang paling menyesakkan bagimu selain di sana.

Kau beranggapan bahwa hal yang paling menyebalkan adalah istrimu yang tak mengerti dirimu. Tapi, di ruang kesepian, kau sadar bahwa kau pun tak pernah mengerti istrimu. Kau hanya akan menemukan ketidakjelasan ketika memikirkan mengapa kau tidak bisa mengerti istrimu yang tak mengertimu. Tak ada hal yang kau coba pecahkan lagi di pikiranmu selain itu, selain kesebalanmu.


/2/

Kau berkata pada dirimu sendiri: saling diam adalah yang terbaik. Karena bagamianapun, meskipun kau berontak untuk mencoba menumpahkan isi kepalamu di hadapan istrimu, kau hanya akan jatuh pada ruang kesepian yang sama.

Seorang perempuan memang lebih mudah melakukannya. Sekonyong-konyong dia seperti meletakkan otak dan segala isi kepalanya di sebuah mangkuk besar sebagai hidangan makan malam. Tapi sulit bagi laki-laki sepertimu. Kau penuh pertimbangan. Bahkan kau pernah tak tega untuk menghadiahkannya sebagai kado ulang tahun istrimu. Anehnya, meski perempuan seperti istrimu sudah menghidangkan jamuan keluhan itu, kau tetap tidak bisa mengerti maksudnya.

Pandangan istrimu memaksamu melahap semua isi kepalanya. Kau tak mencoba untuk mengatakan tidak, lalu dengan susah payah kau melahapnya. Tapi kau tetap tidak merasa kenyang karena kau hanya menelan keluhan-kebosanan istrimu. Setiap hari terus begitu, setiap hari kau terus diam menanggapinya.

Kau mendengar dari tetangga-tetanggamu bahwa istrimu mengeluh. Kau masih akan diam. Kau mendengar dari saudara-saudaramu bahwa istrimu mengeluh, dan kau tetap diam. Kau berpikir bahwa suatu hari istrimu akan bosan dengan keluhannya sendiri, maka kau memilih tetap diam. Akan tetapi semakin lama kau diam, semakin bosan kau merasa diam.

Bagaimana caranya mengatakan bahwa kau tidak mengerti kebosanan istrimu, tanyamu pada dirimu di dalam ruang kesepian itu. Tapi dirimu telah cukup di sana. Di ruang kesepian, tak ada keluhan istrimu. Dia hanya diam, dan kau juga. Kau sudah terbiasa demikian, tapi lama-lama dalam kenyamananmu itu kau merasa istrimu berbeda.

/3/

Kau benar, lama-lama istrimu bosan dengan segala keluhan dan kebosanannya. Dia bosan mengeluh padamu. Dia merasakan bosan yang hampir sama denganmu: bosan karena kebosanannya menunggu jawaban pasti dari dirimu. Lalu dia memilih diam. Kau tak lagi berada di ruang kesepian. Kau benar-benar menemukan jawabannya. Tapi kesepian itu menjelma rumahmu, kamarmu, ruang tamu, dapur, dan kamar mandimu. Tak ada lagi keluhan. Tak ada lagi bosan yang sebelumnya. Kau tak lagi bosan mendengar keluhan kebosanan istrimu. Kau tahu, bosan yang kau rasakan sebelumnya itu beralih ke dalam tubuh istrimu.

Istrimu terperosok dalam jurang kesepian. Istrimu akan seperti dirimu di ruang kesepiannya. Dia memandangmu yang diam, padahal dia benci diam, juga diam yang dilakukannya. Dia mencoba keluar dan mencari jawaban lain. Sementara dia terjebak dalam ruang kesepiannya, kau terjebak di rumahmu yang sepi.

Ini yang dirasakan istriku saat aku memilih diam, katamu dalam hati. Sementara kau berada dalam sunyinya ruang kesepian, dia merasa sepi di kamar tidur, dapur, ruang tamu, dan kamar mandi. Kini, dia sedang berusaha keluar dari ruang kesepiannya.

/4/

Suatu hari kau akan mendengar keluhan istrimu dalam menjalani hubungan rumah tangga. Istrimu juga akan mendengar keluhanmu yang bosan mendengar keluhannya, lewat kediamanmu. Masing-masing di antara kau dan istrimu sama memiliki pintu menuju ruang kesepian itu. Kau dan istrimu akan bergantian memasukinya.

Di suatu hari libur, saat sarapan pagi, kau dan istrimu saling berpandangan. Kau melahap keluhan istrimu, dan istrimu melahap keluhan yang sudah berani kau hidangkan padanya. Dalam pandangan itu, kau ingin sekali mengatakan rasa cintamu. Mungkin istrimu pun sama. Itu tak mungkin, kau dan istrimu sudah memilih diam sejak lama.

Dan peristiwa itu kembali terjadi: kau dan istrimu lebih senang berada dalam ruang kesepian.

Saudaramu dan tetangga-tetanggamu mulai khawatir. Sudah lama mereka tak melihat kau dan istrimu berbicara. Ini aneh. Biasanya, orang akan benci melihat orang lain bertengkar dan berdebat. Setelah melihat diamnya kau dan istrimu, mereka lebih senang melihat kau dan istrimu bertengkar. Mereka merindukan pedebatan suami-istri. Itu lebih tenang bagi mereka. Mereka berpikiran dengan bertengkar isi kepala lebih mudah dimuntahkan lalu dipahami, dari pada kalian berdiam diri menyembunyikannya dalam ruang kesepian.

Mereka menganggap bahwa ini adalah wabah penyakit. Berniat membantumu, mereka mencarikannya obat yang mujarab. Mereka membawa kalian ke dokter psikologi, rumah sakit hubungan suami-istri, pemuka agama bahkan dukun. Mereka khawatir kalian kena guna-guna. Tapi semuanya gagal. Kalian baik-baik saja. Ini semakin membingungkan mereka.

/5/

Sutau hari kau dan istrimu sudah kehilangan rasa bosan dan kesepian. Kau dan istrimu menganggap bosan dan kesepian adalah seorang kawan. Jadi kau dan istrimu tidak merasa sendirian dalam diam. Karena alasan itulah kau dan istrimu mulai melakukan hal aneh: kau berhenti bekerja memutuskan untuk jadi penulis, lalu istrimu berjualan di pasar yang bau dan becek.

Kau dan istrimu tahu bahwa keduanya hal yang paling tidak disukai. Sejak kecil, istrimu tidak pernah suka kotor dan merasa basah, dan kau sangat benci menghapal, membaca dan menulis. Karena kehilangan selera, kau dan istrimu melakukan hal yang paling dibenci.

Sudah lama sejak kau dan istrimu memilih diam. Dengan keputusanmu, kau memilih mengisi kediaman itu dengan menulis. Kau mulai menulis sesuatu.  Tulisan itu kau berkata:
“Suatu hari kau akan mendengar keluhan istrimu yang merasa bosan dalam menjalani hubungan rumah tangga. Dan itu, tak semudah mengatakan aku masih cinta padamu.”

Cimahpar. 2018

*Penulis adalah Alumnus Universitas Pakuan Bogor dan Kandidat Master Pendidikan Bahasa di Universitas Negeri Jakarta.

KOMENTAR

Ads

Nama

.id - Jejak Pencarian,3,1000 Lilin,1,1965,1,2019,1,3 Tahun,1,9 November,1,Adu Domba,1,Advokat,1,Agama,1,Ahok,1,AHY,1,akbid santa benedicta pontianak,1,Aksi 3 Tahun Jokowi-JK,1,Alfred,1,Alumni,1,Anak,2,Ananda,1,Anies,1,Anis Baswedan,1,Antikorupsi,1,Argentina,1,Artikel,25,Asian Games,1,Australia,1,Bahasa,1,Bahasa Inggris,3,Bakti Sosial,1,balaikota Jakarta,1,Bengkulu,1,Berbuah,1,Berita,72,Berita. Sumatra Utara,1,Berjuang,2,Berkarya,2,Berubah,1,Bidan,1,Biografi,1,Bitcoin,1,Black Pather,1,boarding pass,1,Budi Mulia,1,Buku,4,Bumi,1,Bunuh Diri,2,cadar,1,Candu,1,Candu Pesan,1,Candu Pesan Instan,1,Capres,1,Cawapres,1,Cerpen,5,Changi,1,Cinta,2,Cipayung,1,Cipayung Plus,1,Cookies and Bakery,1,Cooperative Learning,1,CR7,1,Crazy Rich Asians,1,Creative Minority,1,Curhat,1,Danau Toba,2,Dara. Kathulistiwa,1,Deepavali,1,Demokrasi,5,Devide et Impera,1,Dies Natalis PMKRI,1,Dilan,1,Diskusi Publik,1,Diwali,1,DIY,1,Djarot Saiful Hidayat.,1,Dogma,1,Doraemon,1,Dosa,1,DPR,2,Drama,1,Dunia,1,Duterte,1,Dwi,1,Emas,1,Eris,1,ESDM,1,Essai,2,Fakultas Kehutanan,1,Fandis,1,Fase,1,Feminin,1,fenomena,1,FIFA World Cup 2018,1,Film,1,Film Porno,1,Filsuf,1,Forum Orang Muda Dunia,1,Fotografi,1,Fransiskus,1,Freeport,1,Friska Sitorus,2,Fun Walk,1,Game,1,Garuda,1,Gaya Hidup,1,Gender,1,Genre Teks,1,Gereja,2,Gubernur,1,Guru,1,Hak Asasi Manusia,1,HAM,4,Harakiri,1,Harapan,1,Hari,1,Hari Bumi,1,Hari Pahlawan,1,Hati Gajah,1,Hegemoni,1,Henry Golding,1,herbal,1,Hindu,1,hoaks,2,Hoax,3,Holiday,1,Hong Kong,1,HUKUM,1,Human Rights,1,Human Trafficking,1,hutan,2,Hymne,1,Ignasius Jonan,1,Imunitas,1,Indonesia bangkit,2,informasi,2,Introver,1,ISKA,1,Istri,1,Jambi,1,Jaya,1,Jepang,1,JK,1,Jokowi,1,Kabupaten Sintang,1,Kalimantan Barat,2,Kampanye Sosial,1,Karakter,1,Katakanlah,1,Katolik,2,Kebosanan,1,Kecanduan,1,Kekerasan Anak,2,Kekerasan Polisi,1,Kekerasan Seksual,2,Kelompok Cipayung,2,Keluarga,3,Kemiskinan,1,Kepemimpinan,1,Kerabat Antropologi,1,Kerja Jaringan,2,Kesepian,1,Kita Indonesia,1,Kitabisa,1,KMK,1,Kominfo,1,Konflik,1,Konten Negatif,1,Kontribusi,1,Korupsi,4,Koruptor,1,Kostulata,1,Kota,1,KPK,4,KPKR,1,Kreatif,1,Kritik Sastra,5,KSN,2,Kufur,1,Kurnia Patma,2,KWI,2,Larantuka,1,LDKM,1,Lingko Ammi,1,Liovina,1,Literasi,2,LKK,1,Low Budget,1,LPDP,2,Luka,2,Lut_q,1,MABIM,1,Mahasiswa,3,mahasiswa katolik,1,maliku,1,Maluku,1,Marz,1,Maumere,1,MDGs,1,Media online,1,Media Sosial,3,Membaca,6,Meme,1,Menangis,1,Menkominfo,1,Menulis,4,Mesir,1,Messi,1,Milenial,1,Minder,1,Mohctar Lubis,1,Moral Negara,1,Moralitas Negara,1,Mother Earth,1,MPAB,6,Muda,4,Myanmar,1,Nagakeo,1,Narkoba,1,Nasional,1,Natal,1,Nawa Cita,1,Nilai-nilai,1,Nommensen,1,NTT,3,Opening Ceremony,1,Opini,58,Orang Muda,4,Organisasi,4,Ormas,1,Pahlawan,1,Palopo,1,Pancasila,2,Papua,1,Partai Politik,1,Passport,1,Patriarkis,1,Paus,1,Pedagang,1,Pelantikan,2,Pelantikan Anggota Baru,1,Pematangsiantar,3,Pembelajaran Kooperatif,1,Pemerintah,1,Pemimpin,2,Pemuda,3,Pemudi,1,Pendidikan,4,Pendidikan Indonesia,2,pengabdian,1,pengamat,1,Penonton,1,Penulis,1,Peradaban,1,Perang,1,Perbedaan,1,Percaya Diri,1,Perempuan,2,perkebunan,1,PERPPU,1,Persimpangan,1,Pesan Instan,1,Pewarta,1,Philosophy Award,1,PMKRI,33,PMKRI Bengkulu,1,PMKRI Cab. Palopo,1,PMKRI Cabang Bengkulu,1,PMKRI cabang maumere,1,PMKRI cabang Pematangsiantar,1,PMKRI Cabang Tondano,1,PMKRI Cabang Yogyakarta,1,PMKRI Manokwari,1,PMKRI Pematangsiantar,4,Politikus,1,Politk,1,Pontianak,2,Portugal,1,PPDKS,1,Prancis,1,Presiden,1,Pribumi,1,psikologi,1,Puisi,17,Pulang,2,Pulang Kampung,1,Qiana,1,Radikal,1,Radikalisme,2,Refleksi,2,Refleksi Sumpah Pemuda,1,Reformasi,1,Review Buku,2,Riview,1,Robertus Dagul,1,Rohingya,2,Romo Prof. DR. Franz Magnis-Suseno,1,Ronaldo,1,Sahabat,1,Sangge-sangge,1,SBY,1,SDGs,1,SDN Nggoang,1,Sejawat,1,Sekolah,1,Seks,1,serai,1,Simalungun,1,Sinetron,1,SJ,1,sm3t,1,Sosdodihardjo,1,Sosial,2,Spirit,1,Sriwijaya Air,1,Stadium General,1,Studium Generale,1,Sukses,1,Sulawesi Utara,1,Sumpah Pemuda,2,Surat,1,Surat Terbuka,2,Suster,1,Sydney Opera House,1,Taruna Merah Putih,1,Tembok,1,Thomas,1,Tiga,1,TMP,1,Tomson,2,Tomson Sabungan Silalahi,4,Tri Hari Suci,1,Trip N Vlog,1,TRIP N VLOG #PULANG KAMPUNG,1,Tungku Batu,1,UGM,1,UNIPA,1,Universitas HKBP Nommensen,1,Universitas pakuan bogor.,1,Universitas Tanjungpura,1,UNJ,1,Urban,1,Uruguay,1,UU MD3,1,Valentine,1,Vatikan,1,Vatkian,1,Veteran,1,Visi,1,Vox Point,1,wacana,2,wanita,1,War On Drugs,1,Wartawan,1,WiFi,1,World Youth Forum,1,WYF2017,2,YLBHI,1,Yogen,7,Yogyakarta,1,Zaman Now,1,
ltr
item
katakanlah: ISTRIKU TERSAYANG
ISTRIKU TERSAYANG
Suatu hari kau akan mendengar keluhan istrimu yang mulai bosan menjalani rumah tangga.
https://2.bp.blogspot.com/-jxy7Xw7E67o/WoEQ5e7__cI/AAAAAAAAAYE/Ul2zeFXuaW4a9yXP03HyetVzUCy55DUaQCLcBGAs/s640/.facebook_1518407652788%255B1%255D.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-jxy7Xw7E67o/WoEQ5e7__cI/AAAAAAAAAYE/Ul2zeFXuaW4a9yXP03HyetVzUCy55DUaQCLcBGAs/s72-c/.facebook_1518407652788%255B1%255D.jpg
katakanlah
https://www.katakanlah.com/2018/02/istriku-tersayang.html
https://www.katakanlah.com/
https://www.katakanlah.com/
https://www.katakanlah.com/2018/02/istriku-tersayang.html
true
8814382905702038148
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All rekomendasi LABEL arsip CARI ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy