Ingin Mengubah, Yuk Mulai Dari Diri Sendiri



Oleh: Tomson Sabungan Silalahi*

Tulisan ini akan dibagi dalam beberapa bagian kecil, dari pertanyaan mengapa harus berubah, melihat kembali identitas (yang di dalamnya termasuk nilai-nilai yang dianutnya) PMKRI dan implementasinya dalam seluruh aktivitas kadernya (sejauh ini), kemudia kembali lagi ke pertanyaan awal dalam bentuk yang lebih reflektif, haruskah berubah? Dan akhrinya ditutup dengan daya kader yang meberdayakan.

Di beberapa paragraf akan sada pertanyaan-pertanyaan reflektif yang mungkin tidak terjawab secara eksplisit maka harus dijawab sendiri sesuai pengalaman masing-masing pembacanya.

Mengapa harus berubah?
Diskursus untuk bertransformasi tentu tidak hadir begitu saja. Perubahan zaman selalu memaksa organisasi untuk turut berubah (baca beradaptasi, menyesuaikan diri), agar tidak ketinggalan, seperti yang digambarkan Rhenald Kasali dengan kejam dalam slogannya: berubah atau mati!

Niat untuk bertransformasi harus datang dari kesadaran dan kejujuran melihat kenyataan yang ada. Kalau dipaksa (baca: datang dari pihak luar) justeru akan menjadi gamang bahkan kehilangan arah. Sebelum beranjak melakukan transformasi atau perubahan rupa (baik bentuk, sifat, fungsi dan lain sebagainya) sangat perlu mengetahui posisi kita sedang di mana. Mengapa harus berubah? Apa yang memicu?

Dialektika di dalam organisasi maupun karena dialektika dari luar organisasi menumbuhkan niat untuk berubah. Di dalam organisasi, dialektika yang semacam apa yang sedang berlangsung? Apa kerisauan-kerisauan yang sering terlontar terkait eksistensi PMKRI kalau harus berubah?

Memulai menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, mari kita lihat ‘kader’ yang menghidupi PMKRI sendiri, subjeknya. Apa yang (telah) dilakukan kader-kader PMKRI selama ini? Kita mengenal ada 6 (enam) identitas kader yang sudah diperkenalkan sejaka masuk PMKRI yang adalah turunan ketiga nilai dasar PMKRI yang kita kenal dengan ‘tiga benang merah’. Selama ini sudahkan tindak tanduk kita sudah menggambarkan keenam identitas itu?

Kader PMKRI dan identitasnya
PMKRI dalam semua pembinaan yang ada di dalamnya sebenarnya ditujukan untuk membantu para anggotanya untuk mencapai keunggulan pribadi yang ditunjukkan dengan integritas pribadi yang utuh. Integritas yang utuh itu dapat diuraikan dalam 6 ciri-cirinya, yakni: (1) SENSUS CHATOLICUS, Rasa Kekatolikan, (2) SEMANGAT MAN FOR OTHERS, panggilan hidup misioner yang menuntut sikap siap sedia.  Bahwa setiap kegiatan hidup tidak hanya didasarkan pada kepentingan diri sendiri melainkan sejauh mungkin diabdikan pada kepentingan sesama yang lebih besar, (3) SENSUS HOMINIS, rasa kemanusiaan, terdapat kepekaan terhadap segala unsur manusiawi yang meliputi solidaritas pada setiap pribadi manusia, (4) PRIBADI YANG MENJADI TELADAN, kemampuan untuk menjadi pribadi yang menjadi garam dan terang dunia, dalam pola pikir, sikap, dan tingkah laku, (5) UNIVERSALITAS, sikap siap sedia untuk memasuki celah-celah dan dimensi kehidupan masyarakat yang paling membutuhkan dan menerobos tembok-tembok diskriminasi dalam bentuk apapun, (6) MAGIS SEMPER, semangat lebih dari sebelumnya yang hanya dapat dicapai dengan kerja keras, mutu, magis, dan profesional.  Pribadi demikian selalu mengacu pada on going formation[1].

Sensus Chatolicus, rasa kekatolikan. Kader PMKRI tidak harus menjadi seorang (yang beragama Katolik) tetapi memiliki rasa kekatolikan, artinya setiap tindakan dan reaksinya berlandaskan nilai-nilai kekatolikan, minimal mengerti dan menjalankan ‘Ajaran Sosial Gereja’. Hayo ada yang masih ingat? Ini materi saat MABIM (masa bimbingan) loh.

Semangat Man for Others. Bila ada kader PMKRI yang masih egois, mementingkan diri sendiri, dia merupakan kader yang gagal. Kader-kader PMKRI diajarkan untuk selalu mengedepankan kepentingan bersama, maka tidak heran banyak orang-orang di sekitar kader PMKRI yang merasa bahwa apa yang dilakukannya adalah sia-sia, menghabiskan banyak waktu bahkan tidak rasional, tidak sedikit pula yang mencibir. Namun, masihkah semangat mengabdi itu semata-mata untuk kepentingan bersama atau kepentingan pribadi yang mendahului? Rasanya tidak lagi, untuk menjadi Pengurus Pusat saja menjadi rebutan (yang kalua menggunakan logika orang di luar PMKRI harunya Ketua Presidium terpilih susah merekrutnya karena harus mengorbankan waktunya selama dua tahun untuk perhimpunan), sudah menjadi rahasia umum bahwa sudah ada deal-deal-an saat MPA (ataukah ini sekedar rumor yang kerap dilontarkan kubu lawan sebagai black campaign?), demi menjadi pimpinan utama di Perhimpunan.

Sensus Hominis, rasa kemanusiaan. Kata kuncinya adalah solidaritas, solidaritas terhadap sesama manusia. Peka terhadap unsur-unsur manusiawi dan diterapkan pada semua manusia. Memperlakukan manusia lain selayaknya manusia. Jika ada orang lain yang hak asasinya dilecehkan, kader PMKRI harusnya peka terhadap itu dan segera melakukan apa yang bisa dilakukan untuk mendukung korban, menunjukkan dengan tulus solidaritasnya.

Pribadi yang menjadi teladan, seperti garam dan terang, kader PMKRI harus memiliki pola pikir yang baik, sikap dan tingkah laku yang baik, yang mencerminkan ketiga ciri yang di atas.

Universalitas, kader PMKRI tidak lagi berlaku ekslusif tetapi inklusif. Memastikan bahwa tidak ada lagi diskriminasi terjadi di sekitarnya, tidak lagi hanya membantu orang yang sama identitasnya. Berlaku adil terhadap semua golongan tanpa memandang RAS. Celah-celah dan dimensi perbedaan-perbedaan itu harus bisa dirobohkan, harus berlaku adil sejak dari pikiran (pesan Pram dalam Bumi Manusia), tanpa memandang baju apa yang orang lain pakai.

Magis semper, dengan memegang prinsip on going formation, kader PMKRI harus tumbuh dan berkembang dari hari ke hari menjadi pribadi yang lebih baik. Semua itu dicapai dari hasil kerja keras bukan menggergaji teman. Selalu menjaga mutu-nya mengingat banyaknya godaan di dunia ini, bukan mundur dari mutu sebelumnya namun lebih bermutu lagi, dan selalu bersikap profesional. Maka jika ada kader PMKRI yang malas mengasah kemampuannya bahkan malas mendengarkan materi yang disampaikan dalam kesempatan-kesempatan belajar karena merasa sudah pintar, itu bukanlah ciri kader PMKRI.

Dari narasi keenam ciri di atas, sudahkah kita layak disebut atau menganggap diri kader PMKRI yang seutuhnya?

Jika keenam identitas di atas sudah melekat pada setiap kader PMKRI, kurang kontekstual apa lagi kader kita di dunia yang selalu berubah ini? Bila keenam identitas kader PMKRI di atas adalah keseluruhan pengetahuan setiap kader sebagai makhluk sosial (di PMKRI dan di masyrakat) yang digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalamannya dan yang menjadi pedoman tingkah lakunya, maka jangan ragukan lagi betapa relevannya PMKRI hadir di tengah zaman yang kian bergerak cepat ini.

Haruskah PMKRI berubah?
Seperti slogan Rhenald Kasali di atas, karena Dunia berubah, maka mau tidak mau PMKRI juga harus berubah kalau tidak mau mati. Namun apakah budaya (baca: nilai-nilai PMKRI) yang kita hidupi selama ini yang harus berubah?

Dunia memang berubah, namun bukan sifat alamiahnya. Manusia misalnya, masih marah jika diperlakukan dengan tidak adil. Kita masih bersedih jika ada teman kita yang sedang kemalangan.

Mengingat hal-hal yang kita perjuangkan adalah keadilan sosial, kemanusiaan, dan persaudaraan sejati, karena dunia sudah berubah, apakah hal-hal itu sudah berubah? Di satu sisi kita harus mengakui bahwa ada perubahan yang lebih baik. Misalnya, sudah ditemukan banyak obat medis untuk menjamin kesehatan umat manusia. Namun, masih banyak juga kasus malapraktek. Maka tidak salah PMKRI tetap memperjuangkan ketiga hal itu.

Di tengah itu semua (pergumulan-pergumulan manusia), ada anggapan bahwa PMKRI tinggal menunggu mati. PMKRI kini hidup dalam kenyamanan, kita tidak lagi mau mencium bau keringat orang tertindas (pada bagian ini, perlu diskusi lebih lanjut).

Karena PMKRI dibentuk dari latar belakang semangat untuk mengubah dunia yang lebih baik karena dunia yang tidak adil. Maka PMKRI lahir untuk memperjuangkan, prinsip perjuangan ini yang harus dihidupi selalu. Memperoleh pekerjaan (setelah ber-PMKRI) karena relasi adalah harus dianggap sebagai bonus saja bukan tujuan utama ber-PMKRI.

Jadi apa yang ingin kita ubah, dan berubah ke mana? Maka, ternyata, bukan nilai-nilai PMKRI-nya yang sudah tidak relevan lagi. Yang harus berubah (yang harus pertama-tama sekali berubah) adalah kader-kadernya, dengan segala kebiasaannya yang terlanjur tidak lagi mencerminkan manusia yang menjiwai nilai-nilai pancasila dan kekatolikan.



Dunia berubah, Skenario terbaik dan terburuk dunia, lantas apa yang harus diubah?
Pertama-tama sudah disinggung di muka, bahwa kebiasaan-kebiasaan kader PMKRI yang sudah melenceng dari identitas yang seharusnya itu yang harus diubah. Bukan mengbubah orientasinya karena justeru orientasi PMKRI kian relevan karena dunia yang berubah sangat cepat ini.

Kini kita mulai mengenail masyarakat 5.0[2] yang diperkenlakan oleh Jepang di mana teknologi digital diaplikasikan dan berpusat pada kehidupan manusia. Tujuan penerapannya tentunya untuk mewujudkan tempat (dunia) di mana manusia dapat menikmati hidup.

Dalam hal itu, big data dan internet of things akan berubah menjadi artificial intelligent (kecerdasan buatan) yang menyentuh semua aspek kehidupan masyarakat. Dengan kecerdasan buatan ini manusia akan dengan gampang mengetahui jika ada bibit penyakit di dalam tubuhnya, hingga sebelum penyakit itu melumpuhkannya sudah diambil tindakan pencegahan.

Namun tentu saja kita tidak bisa percaya (baca: lengah) begitu saja (karena kekaguman yang berlebihan). Semua teknologi awalnya diciptakan demi memudahkan hidup manusia tanpa memandang golongan, namun dalam perjalanannya manusia kerap jatuh dalam keserakahan untuk memiliki lebih dari yang lain. Hingga untuk kesenangannya sendiri tidak jarang manusia mengorbankan manusia yang lain.

Profesor Yuval Noah Harari dalam Homo Deus memprediksi akan semakin banyak manusia yang tidak berguna[3] (useless people) pada masa yang akan datang seiring dengan perkembangan teknologi dengan adanya artificial intelligent yang dimodifikasi dengan bio teknologi. Kesenjangan sosial akan sangat mungkin semakin melebar. Yang menguasai dunia dan semua sumber dayanya hanyalah segelintir orang.

Kalau di muka, Jepang telah memperkenalkan skenario terbaik di masa depan, maka (salah satu) skenario terburuk yang sangat mungkin terjadi adalah kesenjangan sosial yang semakin melebar dan terciptanya manusia-manusia tidak berguna. Karena keserakahan yang melekat pada diri manusia, pada akhirnya, bisa saja manusia pemilik modal (data dan teknologi) yang menguasai kebanyakan sumber daya akan melakukan genosida terhadap manusia-manusia tidak berguna itu.

PMKRI harus bisa memberikan solusi terbaik untuk menjawab skenario-skenario terburuk yang akan terjadi di masa yang akan datang. PMKRI dalam niatnya untuk berubah harus mengarah pada skenario itu. Mencipta kader yang berdaya sekaligus memiliki hati.

Menjadi kader yang berdaya dan memberdayakan
Kehdarian PMKRI tentunya harus mampu menciptakan kader-kader yang berdaya yang menjiwai semua nila-nilainya, yang bercirikan keenam identitas kader di muka. Selain berdaya mampu pula memberdayakan orang lain. Benang ‘intelektual populis’ yang telah terajut di dalam diri kader PMKRI akan semakin kontekstual jika semua ilmu yang dimiliki bukan semata-mata digunakan untuk dirinya sendiri namun untuk memberdayakan orang lain di sekitarnya.

Mengingat dunia yang berubah ke arah ‘digitalisasi’ dengan semua dampak baik dan buruknya, kader PMKRI harus segera mempelajarinya dengan serius. Arus informasi yang kian cepat harus ditanggapi dengan bekerja dengan tempo yang semakin meningkat sembari menjaga irama agar tetap berpegang pada nilai-nilai PMKRI.

Silabus pembinaan PMKRI, misalnya, sudah saatnya mengakomodir materi yang membahas dunia digital ini. Kalau saat ini surat-menyurat dipelajari agar setidaknya saat melamar pekerjaan kader PMKRI tidak lagi gagap menulis surat lamaran, kini dunia teknologi harus dipelajari agar tidak tergilas zaman dan menjadi manusia-manusia tidak berguna.

Agar bisa memberdayakan yang lain, seseorang harus memiliki daya dahulu. Karena hanya orang yang memilikilah yang mampu memberi. Intinya, kalau ingin mengubah, mari mulai dari diri sendiri.



[1] Buku Saku PMKRI
[2] Baca lebih lanjut di sini: https://properti.kompas.com/read/2019/01/25/213000921/jepang-menjelang-5.0-society-dan-era-menikmati-hidup
[3] Bdk. Yuval Noah Harari, Homo Deus – Masa Depan Umat Manusia, (Ciputat:  Alvabet, 2018), h. 366-377

Jakarta, 06 Februari 2019
*Sekretaris Jenderal PP PMKRI Periode 2018-2020

Note: 
Tulisan ini terbit pertama kali di Majalah Petra Komda III PMKRI No. 01


KOMENTAR

Ads

Nama

.id - Jejak Pencarian,3,#fempop,1,1000 Lilin,1,1965,1,2018,1,2019,3,3 Tahun,1,9 November,1,Adu Domba,1,Advokat,1,Agama,1,Ahok,1,AHY,1,akbid santa benedicta pontianak,1,Aksi 3 Tahun Jokowi-JK,1,Alfred,1,Alumni,1,Anak,2,Ananda,1,Ancaman Pemilu,1,Anies,1,Anis Baswedan,1,Antikorupsi,1,Aquaman,1,Argentina,1,Artikel,26,Asian Games,1,Australia,1,Bahasa,1,Bahasa Inggris,3,Bakti Sosial,1,balaikota Jakarta,1,Bengkulu,1,Berbuah,1,Berita,78,Berita. Sumatra Utara,1,Berjuang,2,Berkarya,2,Berubah,2,Bidan,1,Biografi,1,Bitcoin,1,Black Panther,1,Black Pather,1,boarding pass,1,Budi Mulia,1,Buku,5,Bumi,1,Bunuh Diri,2,cadar,1,Camping Rohani,1,Candu,1,Candu Pesan,1,Candu Pesan Instan,1,Capres,1,Catatan,1,Catatan Akhir Tahun,1,Cawapres,1,Cerpen,5,Changi,1,Cinta,2,Cipayung,1,Cipayung Plus,1,Cookies and Bakery,1,Cooperative Learning,1,CR7,1,Crazy Rich Asians,1,Creative Minority,1,Curhat,1,Danau Toba,2,Dara. Kathulistiwa,1,Deepavali,1,Demokrasi,5,Devide et Impera,1,Dies Natalis PMKRI,1,Dilan,1,Dion Dhima,1,Diskusi Publik,1,Diwali,1,DIY,1,Djarot Saiful Hidayat.,1,Dogma,1,Donor Darah,1,Doraemon,1,Dosa,1,DPR,2,Drama,1,Dunia,1,Duterte,1,Dwi,1,Emas,1,Eris,1,ESDM,1,Essai,2,Fakultas Kehutanan,1,Fandis,1,Fase,1,Feminin,1,Feminism,1,fenomena,1,FIFA World Cup 2018,1,Film,1,Film Porno,1,Filsuf,1,Finansial,1,Forum Orang Muda Dunia,1,Fotografi,1,Fransiskus,1,Freeport,1,Frengki Simamora,2,Friska Sitorus,2,Fun Walk,1,Game,1,Garuda,1,Gaya Hidup,1,Gender,1,Genre Teks,1,Gereja,2,Goethe-Institut Indonesien,1,Gubernur,1,Guru,1,Hak Asasi Manusia,1,HAM,4,Harakiri,1,Harapan,1,Hari,1,Hari Bumi,1,Hari Pahlawan,1,Hati Gajah,1,Hegemoni,1,Henry Golding,1,herbal,1,Hindu,1,hoaks,2,Hoax,3,Holiday,1,Hong Kong,1,HUKUM,1,Human Rights,1,Human Trafficking,1,hutan,2,Hymne,1,Ignasius Jonan,1,IKASANTRI,1,Imunitas,1,Indonesia bangkit,2,informasi,2,Introver,1,ISKA,1,Istri,1,Jambi,1,Jaya,1,Jepang,1,JK,1,Jokowi,2,Kabupaten Sintang,1,Kalbar,1,Kalimantan Barat,2,Kampanye Sosial,1,Karakter,1,Katakanlah,1,Katolik,2,Kebosanan,1,Kecanduan,1,Kekerasan Anak,2,Kekerasan Polisi,1,Kekerasan Seksual,2,Kelompok Cipayung,2,Keluarga,3,Kemiskinan,1,Kepemimpinan,1,Kerabat Antropologi,1,Kerja Jaringan,2,Kesepian,1,Kita Indonesia,1,Kitabisa,1,KMK,1,Kominfo,1,Konflik,1,Konsumtif,1,Konten Negatif,1,Kontribusi,1,Korupsi,4,Koruptor,1,Kostulata,1,Kota,1,KPK,4,KPKR,1,Kreatif,1,Kritik Sastra,6,KSN,2,Kufur,1,Kurnia Patma,2,KWI,2,Larantuka,1,LDKM,1,Lingko Ammi,1,Liovina,1,Literasi,2,LKK,1,Low Budget,1,LPDP,2,Luka,2,Lut_q,1,MABIM,1,Mahasiswa,3,mahasiswa katolik,1,maliku,1,Maluku,1,Marz,1,Maumere,1,MDGs,1,Media online,1,Media Sosial,3,Membaca,6,Meme,1,Menangis,1,Menkominfo,1,Menulis,4,Mesir,1,Messi,1,Messiah,1,Milenial,1,Millennial,1,Minder,1,Mohctar Lubis,1,Moral Negara,1,Moralitas Negara,1,Mother Earth,1,MPAB,6,Muda,5,Myanmar,1,Nagakeo,1,Narkoba,1,Nasional,1,Natal,2,Nawa Cita,1,Nilai-nilai,1,Noam Chomsky.,1,Nommensen,1,NTT,3,Opening Ceremony,1,Opini,66,Orang Muda,4,Organisasi,4,Ormas,1,Pahlawan,1,Palopo,1,Pancasila,2,Papua,1,Partai Politik,1,Passport,1,Patriarkis,1,Paus,1,Pedagang,1,Pelantikan,2,Pelantikan Anggota Baru,1,Peluang,1,Pematangsiantar,3,Pembelajaran Kooperatif,1,Pemerintah,1,Pemilu,1,Pemimpin,2,Pemuda,4,Pemudi,1,Pendidikan,4,Pendidikan Indonesia,2,pengabdian,1,pengamat,1,Penjajahan,1,Penonton,1,Penulis,1,Peradaban,1,Perang,1,Perbedaan,1,Percaya Diri,1,Perempuan,2,perkebunan,1,PERPPU,1,Persimpangan,1,Pesan Instan,1,Pewarta,1,Philosophy Award,1,Pilpres,1,PMKRI,35,PMKRI Bengkulu,1,PMKRI Cab. Palopo,1,PMKRI CAB.PEMATANGSIANTAR,2,PMKRI Cabang Bengkulu,1,PMKRI cabang maumere,1,PMKRI cabang Pematangsiantar,1,PMKRI Cabang Tondano,1,PMKRI Cabang Yogyakarta,1,PMKRI Manokwari,1,PMKRI Pematangsiantar,6,Politikus,1,Politk,1,Pontianak,2,Pop,1,Portugal,1,PPDKS,1,Prabowo,1,Prancis,1,Presiden,1,Pribumi,1,psikologi,1,Puisi,19,Pulang,2,Pulang Kampung,1,Qiana,1,Quilt,1,Radikal,1,Radikalisme,2,Refleksi,2,Refleksi Sumpah Pemuda,1,Reformasi,1,Reuni,1,Review Buku,2,Riview,1,Robertus Dagul,1,Rohingya,2,Romo Prof. DR. Franz Magnis-Suseno,1,Ronaldo,1,Sahabat,1,Sangge-sangge,1,SBY,1,SDA,1,SDGs,1,SDM,1,SDN Nggoang,1,Sejawat,1,Sekolah,1,Seks,1,Seminar Nasional,1,serai,1,Simalungun,1,Sinetron,1,SJ,1,sm3t,1,Sosdodihardjo,1,Sosial,2,Spirit,1,Sriwijaya Air,1,Stadium General,1,Studium Generale,1,Sukses,1,Sulawesi Utara,1,Sumpah Pemuda,2,Surat,1,Surat Terbuka,2,Suster,1,Sydney Opera House,1,Taruna Merah Putih,1,Tembok,1,Temu Pemuda Lintas Iman Kalbar,1,TEPELIMA,1,Thomas,1,Tiga,1,TMP,1,Tomson,2,Tomson Sabungan Silalahi,5,Transformasi,1,Tri Hari Suci,1,Trip N Vlog,1,TRIP N VLOG #PULANG KAMPUNG,1,Tungku Batu,1,UGM,1,UNIPA,1,Universitas HKBP Nommensen,1,Universitas pakuan bogor.,1,Universitas Tanjungpura,1,UNJ,1,Urban,1,Uruguay,1,UU MD3,1,Valentine,3,Vatikan,1,Vatkian,1,Veteran,1,Visi,1,Vox Point,1,wacana,2,wanita,1,War On Drugs,1,Wartawan,1,WiFi,1,World Youth Forum,1,WYF2017,2,Yesus,1,YLBHI,1,Yogen,7,Yogyakarta,1,Zaman Now,1,
ltr
item
katakanlah: Ingin Mengubah, Yuk Mulai Dari Diri Sendiri
Ingin Mengubah, Yuk Mulai Dari Diri Sendiri
Mengingat dunia yang berubah ke arah ‘digitalisasi’ dengan semua dampak baik dan buruknya, kader PMKRI harus segera mempelajarinya dengan serius. Arus informasi yang kian cepat harus ditanggapi dengan bekerja dengan tempo yang semakin meningkat sembari menjaga irama agar tetap berpegang pada nilai-nilai PMKRI.
https://2.bp.blogspot.com/-_Cpy62baIFY/XHAyxAYMTZI/AAAAAAAAAto/Z1ZQVUtxfosEBUrfGHxoUP_nvDwZyE-xQCLcBGAs/s640/Majalah%2BPETRA%2BTomson.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-_Cpy62baIFY/XHAyxAYMTZI/AAAAAAAAAto/Z1ZQVUtxfosEBUrfGHxoUP_nvDwZyE-xQCLcBGAs/s72-c/Majalah%2BPETRA%2BTomson.jpg
katakanlah
https://www.katakanlah.com/2019/02/ingin-mengubah-yuk-mulai-dari-diri.html
https://www.katakanlah.com/
https://www.katakanlah.com/
https://www.katakanlah.com/2019/02/ingin-mengubah-yuk-mulai-dari-diri.html
true
8814382905702038148
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All rekomendasi LABEL arsip CARI ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy